Selasa, 07 Juli 2015

KEGIATAN BERSAMA TNI, BERSIH-BERSIH TELINGA MURID SD DI PAPUA BARAT



Berbagai upaya dilakukan untuk menyukseskan program Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Di Propinsi Papua Barat. Mengingat keterbatasan sumber daya tenaga dan sarana kesehatan untuk Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian, maka kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan melibatkan instansi lain seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Perawat Nasional Indonesia (IPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), BPJS Kesehatan, PKK, Dharma Wanita, Lembaga Keagamaan, Lembaga Adat, Lembaga Pendidikan, TNI-Polri, Swasta.
Pada kesempatan ini, kami ingin berbagi pengalaman, bagaimana melaksanakan kegiatan skrining dan BBT (bersih-bersih telinga) murid SD di Papua Barat bekerjasama Tentara Nasional Indonesia.

BERMULA DARI TEMPAT PRAKTEK
Pada suatu kesempatan, Ibu Ketua Persit KCK dari Komando Distrik Militer (Kodim) Fak-Fak berkunjung ke tempat praktek kami dalam rangka berkonsultasi . Pada pertemuan tersebut, terjadi diskusi kecil bagaimana menjangkau banyak anak-anak sekolah dalam skrining kesehatan telinga sekaligus pembersihan kotoran telinga, mengingat survey Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian bahwa angka kejadian sumbatan kotoran telinga (serumen) pada anak sekolah adalah 30-50 %. Memang, selama ini Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sudah dilaksanakan rutin oleh sebagian besar Puskesmas, tetapi karena keterbatasan sumber daya tenaga  dan sarana kesehatan telinga di Puskesmas atau Puskesmas Pembantu maka kegiatan UKS masih terbatas terbukti bahwa angka kejadian sumbatan kotoran telinga (serumen) masih tinggi.
Dari diskusi kecil dengan Ibu Dandim itulah, maka kami meminta Ibu Dandim Fakfak mengundang kami selaku Komite Daerah Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komda PGPKT) Kabupaten Sorong – satu-satunya Komda PGPKT yang ada di Papua dan merupakan Komda tingkat Kabupaten pertama yang terbentuk di Indonesia - untuk memfasilitasi kami mengadakan  skrining dan pembersihan kotoran telinga pada 10 (sepuluh) Sekolah Dasar (SD) di kota Fakfak, Papua Barat.

PEMBIAYAAN KEGIATAN
Puji syukur kepada Tuhan YME, kerinduan kami bersama Ibu Dandim Fak-fak untuk mengadakan kegiatan PGPKT di Fakfak, ternyata disambut baik oleh Komandan Kodim Fakfak beserta jajaran Kodim Fakfak, terbukti dengan undangan yang kami terima dari Kodim Fakfak untuk kegiatan skrining dan pembersihan kotoran telinga (serumen) pada 10 (sepuluh) SD di kota Fakfak pada tanggal 4 April 2012, dimana seluruh biaya transportasi dari Sorong ke Fakfak, biaya akomodasi selama kegiatan di kota Fakfak dan biaya pengadaan obat seluruhnya ditanggung oleh Kodim Fakfak.
Selama kegiatan berlangsung, dengan mudah murid-murid SD per-sekolah dijemput dengan lancar dan aman oleh mobil  milik Kodim Fakfak, diantar ke Markas Kodim untuk menjalani pemeriksaan dan pembersihan kotoran telinga bahkan dilakukan juga perawatan dan pengobatan penyakit telinga pada kasus-kasus infeksi telinga, benda asing dalam telinga dan pengobatan ISPA (sebagai salah satu penyebab gangguan telinga).
Bila murid-murid dari satu SD selesai diperiksa, maka mobil Kodim Fakfak akan menjemput murid dari SD lainnya sambil mengantar pulang murid SD yang telah selesai diperiksa, sehingga ruang Markas Kodim Fakfak tidak penuh sesak.  Sebelum pulang, murid-murid SD diberi makanan ringan dari hasil kebun prajurit TNI-AD seperti rebusan jagung, ubi kayu (singkong), pisang dan minuman.

KEGIATAN DI FAKFAK MEMPENGARUHI KODIM LAIN
Keberhasilan Kodim Fakfak melaksanakan kegiatan seperti cerita di atas, menggugah Kodim Sorong untuk kegiatan serupa. Berbekal cerita pengalaman dengan Kodim Fakfak, kegiatan serupa dilirik oleh Kodim 1704 Sorong. Maka keluarlah ide membuat Kegiatan TNI Manunggal Kesehatan dengan fokus Kesehatan Telinga. Kegiatan dilaksanakan di Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 1704 Sorong dengan melibatkan 11 (sebelas) SD yang ada di sekitar Makodim 1704 Sorong, dengan total murid yang diperiksa : 1760 orang. Sebenarnya Kodim Sarmi di Propinsi Papua juga sudah mengontak kami untuk mengadakan kegiatan karena mendengar cerita pengalaman dari Kodim Fakfak, tetapi karena komunikasi terputus maka kegiatan tertunda.

SEPULUH LANGKAH  KEGIATAN SKRINING DAN BBT MURID SD BEKERJASAMA DENGAN KODIM SORONG:
1.       Merencanakan kegiatan bersama, melalui rapat-rapat yang dihadiri oleh pihak Kodim Sorong, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, IDI dan Komite Daerah Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komda PGPKT) Sorong
2.       Pelatihan atau penyegaran cara memeriksa telinga dan pembersihan kotoran telinga (serumen) , benda asing dan cara pengobatan bagi para dokter Puskesmas, dokter RSUD, dokter poliklinik TNI-AD setempat yang membantu kegiatan, sehari sebelumnya atau sebelum kegiatan dimulai.
3.       Pada hari pelaksanaan kegiatan, murid SD dijemput dengan kendaran milik Kodim. Jumlah murid yang dijemput disesuaikan dengan kapasitas tempat duduk pada ruang tunggu. Pembukaan kegiatan oleh Komandan Kodim didampingi oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, IDI dan Komda PGPKT Sorong
4.       Setelah pembukaan – sambil dilakukan pendaftaran murid – pada bagian lain dilaksanakan edukasi tentang kesehatan telinga baik melalui ceramah , pembagian leaflet atau pemutaran video edukasi kesehatan telinga sambil murid-murid menunggu giliran pemeriksaan.
5.       Dokter umum yang sudah dilatih sebelumnya, melakukan skrining  pada murid satu per satu.
6.       Bila terdapat sumbatan serumen atau kelainan telinga maka murid diarahkan ke meja tindakan  pembersihan kotoran telinga, atau pemberian perawatan telinga dan pengobatan bagi kasus infeksi telinga, benda asing dalam telinga, ISPA ( sebagai salah satu penyebab gangguan telinga )
7.       Bila ada pemberian obat, maka murid diantar ke bagian pelayanan obat.
8.       Bila murid tidak mengalami kelainan telinga, maka langsung diantar ke ruang istirahat, menikmati makanan/minuman ringan sambil menonton video film kartun, menunggu jemputan untuk kembali ke sekolah. Murid yang sudah menjalani tindakan perawatan dan atau mengambil obat, juga diarahkan ke ruang istirahat. Pada waktu mengantar pulang murid yang selesai diperiksa, dilakukan penjemputan murid pada sekolah lainnya.
9.       Dokter spesialis THT menempati meja terakhir untuk menerima konsultasi atas kasus-kasus spesialistik.
1.   Selesai kegiatan, dilakukan rekapitulasi kasus-kasus yang ditemukan. Membuat laporan.

KEGIATAN SKRINING DAN BERSIH-BERSIH TELINGA YANG SUDAH DILAKSANAKAN BERSAMA TENTARA NASIONAL INDONESIA :
1.       Skrining dan Bersih-Bersih Telinga (BBT) di Fakfak pada tanggal 4 April 2012, melibatkan Kodim 1706 Fakfak, Pemda Kabupaten Fakfak, IDI Fakfak, Komda PGPKT Sorong
2.       Skrining dan Bersih-Bersih Telinga (BBT) di Kotamadya Sorong pada tanggal 18 Maret 2015 melibatkan Kodim 1704 Sorong, Pemerintah Daerah Kota Sorong, Dinas Kesehatan Kota Sorong, IDI Sorong, Komda PGPKT Sorong dan Komda PGPKT Papua Barat
3.       Skrining dan Bersih-Bersih Telinga (BBT) di Sausapor - Kabupaten Tambrauw pada tanggal 15 – 16 April 2015 melibatkan Kodim Sorong, Pemerintah Daerah Kabupaten Tambrauw, Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw, Doctor Share, IDI Sorong, Komda PGPKT Sorong dan Komda PGPKT Papua Barat
4.       Bakti Sosial dalam rangka Hari Armada TNI-AL di Lantamal Sorong, melibatkan Dinas Kesehatan TNI-AL, Dinas Kesehatan Kota Sorong, IDI Sorong, Komda PGPKT Sorong dan Komda PGPKT Papua Barat
KESIMPULAN
1.       Memang belum banyak kegiatan skrining dan BBT yang dilaksanakan bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia, tetapi kalau mau jujur, kegiatan seperti ini sangat perlu dilaksanakan karena kegiatan dapat menjawab kebutuhan akan kesehatan telinga bagi anak-anak (bahkan pada beberapa kesempatan juga melayani orang dewasa/orang tua), terutama di daerah dimana tenaga kesehatan terbatas, apalagi dokter spesialis THT-KL tidak ada di daerah tersebut.
2.       Tentara Nasional Indonesia, memiliki rantai komando yang sangat kuat, memiliki personil dan sarana yang memadai sampai ke pelosok daerah, disamping itu anggota TNI memiliki disiplin tinggi, kepedulian terhadap peningkatan jangkauan pelayanan kepada masyarakat, memiliki kemampuan menggalang partisipasi semua pemangku kebijakan dan dapat menggerakkan partisipasi pihak swasta dan masyarakat secara aktif.
3.       Berbagai kegiatan skrining dan BBT bekerjasama dengan TNI di Papua Barat (seperti contoh di atas) dapat menghimpun murid sekolah dalam jumlah yang banyak bahkan sampai ribuan sehingga memperluas jangkauan pelayanan kepada murid SD dalam waktu yang singkat.
4.       Perlu dikembangkan dan diperluas cakupan pelayanan kesehatan telinga di kemudian hari.





Gambar : Kegiatan Bersama Kodim 1706 Fakfak

Gambar : Kegiatan Bersama Kodim 1704 Sorong



Jumat, 17 April 2015

Kamis, 05 Maret 2015

WASPADA, PEMUTAR MUSIK PRIBADI (PERSONAL MUSIC PLAYER) BISA MERUSAK PENDENGARAN.

“LEBIH DARI 10 % PEMUDA BERESIKO KEHILANGAN PENDENGARAN PERMANEN” 

Gambar oleh dr. Yan Edwin Bunde, SpTHT-KL, Bandung
“Sejujurnya, kami ingin mengedukasi anak-anak remaja dan pemuda, karena masa hidup mereka lebih lama dari dari orang dewasa, dan akibat gangguan pendengaran bisa lebih lama mereka alami. Gangguan pendengaran yang terjadi akan mereka rasakan baik di sekolah, tempat kerja atau relasi sosial dengan sesama.”
Di bawah sorotan tema “ Make Listening Safe “, Dalam peringatan International Ear Care Day dan Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Nasional tanggal 3 Maret 2015, WHO menekankan perhatian pada masalah yang timbul dari Tuli Akibat Bising Sarana Hiburan. 

Jutaan anak remaja dan dewasa muda berada pada resiko timbulnya kehilangan pendengaran karena penggunaan yang tidak aman dari Pemutar Musik Pribadi (Personal Music Player) seperti iPod, smartphone atau MP3 player. Kemampuan mendengar seseorang tentu sangat berharga, yang memiliki pengaruh pada perkembangan di bidang pendidikan, profesi dan sosialnya. 

Tahun ini tema peringatan International Ear Care Day, mendorong para individu, orang tua, guru, dokter, pimpinan perusahaan, pengelola pabrik dan pemerintah untuk ‘make listening safe‘ (buat mendengar aman ), dan mengingatkan semua kita bahwa sekali pendengaran hilang, maka tidak akan pulih kembali. 

Menurut para ilmuwan dari Komisi Eropa yang memeriksa pengguna Alat Pemutar Audio Pribadi (APAP), sebanyak 1 dari 10 pengguna PMP beresiko mengalami kehilangan pendengaran permanen bila mereka mendengar melalui PMP dengan level suara tinggi lebih dari 1 jam sehari selama 5 tahun. Paparan suara diatas 85 dB dalam waktu lama merupakan tingkat kritis untuk kehilangan pendengaran. 

Komisi Eropa mengharuskan pelindung telinga disediakan bila terdapat paparan yang lama terhadap suara 80 dB di tempat kerja. Paparan suara 140 dB selama 2 menit di klab malam adalah ekivalen dengan paparan suara pada 80 dB selama 8 jam. Mendengar melalui PMP pada 95 dB, diukur pd telinga, selama 15 menit sehari ekivalen dengan paparan suara 80 dB selama 8 jam. 

BAGAIMANA GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING TERJADI?
Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) terjadi secara perlahan dan sering tidak ketahuan sampai mencapai suatu tingkat tertentu dimana seseorang baru sadar bahwa dia mengalami gangguan pendengaran. Itu karena kerusakan sel rambut luar dari rumah siput yang terdapat di telinga dalam. Sel rambut luar memperbesar suara level rendah yg masuk ke rumah siput. Kerusakan sel rambut luar dan hubungannya dengan kehilangan pendengaran (tuli) bersifat permanen. Perkiraan sekarang, Gangguan Pendengaran Akibat Bising mempengaruhi 10-15 juta orang di US. Faktor lain dapat memudahkan terjadinya Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Kerentanan sel rambut luar tergantung pada sejumlah factor seperti genetika, gender, umur, dan hipertensi. Krn itu ada banyak variasi tiap individu terhadap resiko kehilangan pendengaran. Merokok juga merupakan factor resiko Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Beberapa obat, seperti Cis-platinum yang digunakan dalam kemoterapi kanker juga dapat merusak pendengaran. Beberapa golongan obat-obatan juga memiliki implikasi kerusakan pendengaran seperti antibiotik tertentu. Dengan meningkatnya penggunaan iPod dan MP3 player lainnya, semakin lama anak-anak dan remaja menjadikan pendengarannya beresiko. Sebelum MP3 player diperkenalkan, kehilangan pendengaran pada anak-anak diperkirakan sekitar 12,5 %. Tetapi, banyak penelitian terakhir memperkirakan 16 % dari remaja atau sekitar 6 juta anak menderita Gangguan Pendengaran Akibat Bising (GPAB) yang permanen. (Cornelia Kean, 2010). Disepakati bahwa dokter-dokter spesialis THT tidak hanya perlu melakukan penapisan (skrining) gangguan pendengaran pada anak-anak dan remaja, tetapi juga melakukan edukasi kepada mereka tentang penyebab Gangguan Pendengaran Akibat Bising. 


APAKAH POKOK MASALAH TERJADINYA GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING.?
Pokok masalah GPAB adalah kurangnya kesadaran di kalangan anak remaja bahwa kebiasaan mereka mendengar musik bisa mempunyai konsekuensi menakutkan. Dr Eavey dkk melakukan survey berbasis Web (melalui Music Television’s Web site – MTV.com) pada tahun 2002 dan mengulang kembali survey 5 tahun kemudian untuk melihat apakah sikap remaja terhadap musik keras telah berubah. Survei pertama, mendapatkan hanya 8 % dari responden yang merasakan gangguan pendengaran yang berhubungan dengan mendengar musik keras sebagai ‘problem sangat besar,’ Anak-anak remaja menilai isu kesehatan lainnya sebagai problem lebih besar daripada gangguan pendengaran, seperti penyakit menular seksual 50 %, pemakaian obat-obatan / alcohol 47%, depresi 44 %, masalah nutrisi dan kehilangan berat badan 31 & dan masalah jerawat 18 %. (Pediatrics. 2005;115(4):861-867). Survei pertama mengemuka, seperti yang dikatakan Dr. Eavey kepada ENT Today, karena banyak responden berkata bahwa mereka mengalami tinnitus (telinga berbunyi) atau gangguan pendengaran setelah menghadiri suatu konser musik (61%) atau pergi ke klab musik (43 %). Pada waktu survey, hanya 14 % menggunakan earplugs (sumbat telinga). Ketika ditanyakan apakah mereka mempertimbangkan pemakaian alat proteksi telinga apabila mereka sadar akan bahaya kehilangan pendengaran secara permanen, 66 % responden mengatakan ya, sementara 59 % responden mengatakan akan memakai proteksi telinga jika disarankan oleh profesi medis. 


MP3 PLAYER
Survei terhadap efek MP3 player, secara khusus yang menggunakan ‘ear buds’ (earphones yang mengantar bunyi musik langsung masuk liang telinga), Dr. Eavey dkk menambahkan pertanyaan tentang pemutar musik pribadi pada survey MTV tahun 2007. Saat itu peneliti menerima 2500 responden. Dr. Eavey dkk melaporkan bahwa 32 % responden mempertimbangkan Gangguan Pendengaran sebagai masalah dibandingkan dengan isu kesehatan lainnya seperti pemakaian obat terlarang/alkohol. (J Pediatr.2009;155(4):550-555) 


Para peneliti menemukan 75 % responden memiliki sendiri MP3 player, dan 24 % mendengar musik lebih dari 15 jam seminggu. Para peneliti juga melakukan survey seberapa keras responden memutar MP3 player mereka ; 45 % responden menunjukkan bahwa mereka mendengar 75-100 % dari kapasitas volume MP3 player mereka. Para peneliti mengetahui bahwa hanya boleh 1 jam saja mendengar MP3 player pada volume maksimal 70 % (untuk mencapai dosis bising maksimal yang diizinkan oleh peraturan pemerintah bagi ambang batas suara di tempat kerja), tetapi bagi anak-anak ini, tidak ada orang yang menyampaikan kepada mereka untuk mengurangi suara atau mematikan MP3 player mereka. 

Catatan Dr. Bothwell mengungkapkan bahwa 89 % responden menulis bahwa suara sekitarnya keras – contohnya suara lalu lintas jalan raya atau kereta api bawah tanah – sehingga mereka akan mengeraskan volume musik. Untuk mendengar iPod lebih keras dari suara bising sekitar, mereka akhirnya mengeraskan suara dengan menambah volume kira-kira 10 dB lebih, sehingga menjadi 100 dB. Mendekati kerasnya konser musik rock. 

Survei tahun 2007 juga menemukan bahwa hampir separuh dari responden mengalami beberapa gangguan telinga. Kebanyakan mengalami tinitus (telinga berdenging) 70 %, gangguan pendengaran (40 %), dan nyeri telinga (34 %) setelah terpapar musik keras. Tetapi walau mengalami gejala gangguan pendengaran, hanya 15 % menggunakan earplugs (sumbat telinga) ketika menghadiri konser musik atau pergi ke klab. Berita baiknya, bahwa sekali mereka dibuat sadar akan bahaya suara musik keras dan memainkan MP3 player terlalu keras, 35 % responden menyatakan kesediaan menerima proteksi telinga – baik earplugs maupun earphone yang memiliki fitur kemampuan ‘ noise canceling ‘ (menghapus bising) 

Penelitian di Belanda tahun 2009 yang dilakukan oleh Ineke Vogel PhD, peneliti postdoctoral pada Department of Public Health at Erasmus Medical Center di Rotterdam, mencatat bahwa anak remaja sering meremehkan diri mereka sendiri mereka (Pediatrics. 2009;123(6):e953-e958). Peneliti menemukan bahwa mereka yang sering menggunakan MP3 player ternyata 4 kali lebih suka mendengar musik volume tinggi dibandingkan dengan mereka yang jarang menggunakan MP3 player. Penjelasan yang masuk akal bahwa sifat meremehkan inilah yang menyebabkan gangguan pendengarannya secara perlahan-lahan terus berkembang. Tambahan lagi, penelitian Dr. Vogel menemukan bahwa anak-anak remaja tidak mengerti bagaimana menentukan apakah volume suara perangkat musik mereka terlalu keras. 

EDUKASI SANGAT PERLU.
Menurut Dr. Bothwell. “ Kita harus menanyakan kepada remaja, pemuda/pemudi tentang kebiasaan mendengar mereka : Apakah anda mendengar musik melalui iPod atau MP3 player? Apakah anda sadar bahwa mendengar melalui iPod atau MP3 player pada volume tinggi bisa menyebabkan kehilangan pendengaran yang permanen ? Kita memiliki tanggung jawab itu.” Dr. Eavey dan Dr. Bothwell mengatakan bahwa jalan terbaik untuk menjangkau anak remaja adalah melalui kampanye sadar bising. 


Disamping usaha edukasi ini, Dr. Bothwell menekankan bahwa dokter tidak boleh hanya mempercayakan pada pabrik-pabrik yang memproduksi atau anggota dewan yang menetapkan peraturan. “Kita memiliki hubungan yang unik dengan anak-anak—mereka mempercayai kita. Kita mempunyai tanggung jawab untuk memberi edukasi kepada mereka bahwa bila mereka mendengar musik pada kekerasan 100 dB selama 3 jam sehari maka mereka akan kehilangan pendengaran mereka secara permanen,” kata Dr. Bothwell. Sejujurnya, kami ingin menjangkau anak-anak remaja dan pemuda, karena masa hidup mereka lebih lama dari dari orang dewasa, dan akibat gangguan pendengaran bisa lebih lama mereka alami. Gangguan pendengaran yang terjadi akan mereka rasakan baik di sekolah, tempat kerja atau relasi sosial dengan sesama.
 

Apple menempatkan fitur kontrol pada beberapa model iPod, memungkinkan orang tua dan pengawas remaja untuk mengatur volume maksimal pada perangkat iPod. Apple juga memasukkan informasi Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Web site (www.apple.com/sound) mereka. 

Di Perancis, legislator (pembuat undang-undang) telah menetapkan volume maksimal 100 dB pada semua MP3 player yang dijual di seluruh Perancis, dan klab/diskotik diwajibkan menjual earplugs (sumbat telinga sebagai pelindung). 

Dr. Eavey setuju bahwa sekali anak-anak sadar akan bahaya bising, mereka akan merubah perilaku mereka – itu akan menjadi suatu kebiasaan seperti halnya pemakaian sabuk pengaman, pemakaian sunblock (pelindung matahari) dan sebagainya. 

TIPS PENGGUNAAN ALAT PEMUTAR MUSIK PRIBADI ( iPOD, SMARTPHONE, MP3 PLAYER).

Atur volume di tempat sepi, atur volume agar masih dapat mendengar percakapan orang. Volume suara PMP yang ideal : 60% volume maksimum untuk penggunaan total 60 menit per hari, pilih pemutar rekaman yang dilengkapi pembatas bising (noise limiter), manfaatkan software khusus ( iPOD edisi 2006 keatas ) untuk mengunci ( lock option) volume maksimum, dan gunakan earphone dgn fasilitas noise canceling atau sound isolation. 

Aliansi Pendengaran Amerika (Hearing Alliance of America), menganjurkan, · Jangan mendengar musik dengan kebisingan tinggi · Atur alat Pemutar Musik Pribadi (PMP) anda hanya ¾ dari volume maksimum · Batasi jumlah waktu untuk mendengar PMP anda setiap hari.· 

Jika anda mendengar melalui PMP pada daerah yang bising, pertimbangkan untuk menggunakan earphone/headphone yang memiliki fungsi isolasi bising atau noise cancelling. Dengan cara ini, anda tidak perlu mengeraskan volume di atas level bising sekitar anda. 

MAKE LISTENING SAFE,

Kamis, 03 Januari 2013

PELAYANAN KASIH BERSAMA KELUARGA 31122012

Hampir setiap tahun, pada akhir tahun kami sekeluarga melayani masyarakat yang masih kurang tersentuh dengan pelayanan medis spesialistik. Pada tanggal 31 Desember 2012, kami melayani di Malino - Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. 


Jumat, 12 Oktober 2012

BAKTI SOSIAL DAN PELATIHAN DOKTER PUSKESMAS DI AGATS 7-8 OKTOBER 2012

Dalam suatu kesempatan Reuni Alumni FK Universitas Hasanuddin Angkatan 79 pada 28 Januari 2012, saya mengajak teman-teman untuk mengadakan bakti sosial pelayanan kesehatan dan - bila memungkinkan - membuat pelatihan bagi dokter umum RSUD / Puskesmas tentang cara pemeriksaan telinga, pemeriksaan garpu tala, cara angkat serumen dan pengeluaran benda asing telinga serta pengobatan penyakit kulit dan penyakit dalam.
Setelah pergumulan yang cukup panjang, rencana tersebut baru dapat terealisir pada tanggal 7 - 8 Oktober 2012, mengikutsertakan Dr. Lanny Tanesia, SpPD ( internis dari RSUD Manokwari ), dr. Jenny Ritung SpKK (dermatoveneorologis dari RSUD Sorong), dr. Agustinus Ruma SpS (Neurolog dari RSUD Sorong) dr. Lenny Simon SKed (GP dari RSUD Merauke) dan saya sendiri dr. Titus Taba SpTHT-KL (RSUD Sorong). Pada kesempatan tersebut kami dibantu oleh dr. Petrus Tjia (GP dari RSUD Merauke - alumni FK UNHAS angkatan 77) mengadakan Bakti Sosial pelayanan dokter spesialis di RSUD Agats pada tanggal 8 Oktober 2012. 
Sebelumnya,pada tanggal 7 Oktober 2012 dilaksanakan advokasi, sosialisasi PGPKT kepada Kadinkes Kabupaten Asmat dan Direktur RSUD Agats dan Pelatihan Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) bagi dokter umum RSUD/dokter Puskesmas se-kabupaten Asmat, didukung oleh Komnas PGPKT, Komda PGPKT Kab Sorong dan Pemda Kabupaten ASMAT. 
Materi pelatihan berupa kuliah dilanjutkan praktek pemeriks
aan telinga dan garpu tala serta cara angkat kotoran telinga (serumen) dan benda asing pada liang telinga. Diharapkan dengan pelatihan ini dokter RSUD dan dokter Puskesmas dapat mempraktekkan secara mandiri di tempat tugas masing-masing .

Selasa, 09 Oktober 2012

BAKTI SOSIAL KESEHATAN DI AGATS

Alumni FK UNHAS angkatan 77, 79 dan 89 mengadakan Bakti Sosial pelayanan dokter spesialis di RSUD Agats pada tanggal 8 Oktober 2012. Sebelumnya, pada tanggal 7 Oktober 2012 dilaksanakan advokasi, sosialisasi PGPKT kepada Kadinkes Kabupaten Asmat dan Direktur RSUD Agats dan Pelatihan Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) bagi dokter umum RSUD/dokter Puskesmas se-kabupaten Asmat, didukung oleh Komnas PGPKT, Komda PGPKT Kab Sorong dan Pemda Kabupaten ASMAT. Materi pelatihan berupa kuliah dilanjutkan praktek pemeriksaan telinga dan garpu tala serta cara angkat kotoran telinga (serumen) dan benda asing pada liang telinga. Diharapkan dengan pelatihan ini dokter RSUD dan dokter Puskesmas dapat melakukan sendiri di tempat tugas masing-masing.


 

Senin, 17 September 2012

BAKTI SOSIAL DI YAYASAN KASIH PAPUA- AGATS, 12092012

Setelah pelayanan bakti sosial kesehatan di RSU Agats - yang dilaksanakan dari pagi sampai sore selesai-kami melanjutkan pelayanan kesehatan bagi sekitar 50 anak binaan di Yayasan Kasih Papua - Agats.