Minggu, 19 April 2009

SARAPAN PAGI BERSAMA ANAK-ANAK ASUHKU DI SORONG


Pagi itu udara sangat cerah. Seperti biasanya, aku menikmati udara segar di pagi hari sambil berjalan berkeliling menyusuri jalan di sekitar rumahku. Beberapa anak – yang merupakan anak asuhku – masih bermalasan di depan rumah mereka, tetapi begitu sigap menyapa selamat pagi. Hal yang menjadi kebiasaan anak Papua untuk menyampaikan kata salam – setidaknya begitu menurutku- bila bertemu dengan seseorang di jalan. Sebagian besar anak – anak itu belum mandi. Mungkin karena hari libur sekolah sehingga mereka merasa tidak perlu bergegas untuk mandi pagi. Nampaknya mereka lesu. Entah karena feeling saja atau ada bisikan hati, aku menawarkan kepada mereka untuk menikmati sarapan pagi nasi kuning di rumahku. Tapi ada satu syarat yaitu mereka harus mandi pagi dahulu supaya sehat dan segar. Dasar anak-anak, mereka kemudian menerima tawaranku dengan bergegas berlari ke rumah masing-masing untuk mandi pagi. 
Aku terus menikmati udara pagi seraya berjalan ke warung nasi kuning langgananku, untuk memenuhi janjiku kepada anak-anak tadi. Aku membeli 16 bungkus nasi kuning, 1 bungkus untukku dan 15 bungkus untuk anak-anak itu. Semoga aku tidak salah ingat jumlah mereka karena aku sering mengumpulkan mereka di pondok belakang rumahku untuk melatih mereka bernyanyi. Dan menjadi kebanggaanku pada anak-anak ini, mereka sudah seringkali diundang ke berbagai tempat untuk menyumbangkan suara merdu khas anak-anak. 
Pagi itu membawa kebahagiaan tersendiri bagiku, karena sudah berbagi kebahagiaan kepada anak-anak sekitarku yang telah menjadi anak-anak asuhku. Mungkin mereka memerlukan sarapan pagi senikmat sarapan pagiku di hari itu.

Minggu, 15 Maret 2009

BAKTI SOSIAL PENGOBATAN TELINGA, KULIT, GIGI DAN MULUT. 15-03-2009

Selaku Sekretaris Umum Yayasan Kasih Immanuel Sorong, saya memprakarsai kegiatan Yayasan Kasih Immanuel Sorong ketika memperingati HUT nya yang ke-4 pada tanggal 6 Maret 2009. 

Kami mengadakan Bakti Sosial Pemeriksaan dan Pengobatan Telinga, Gigi Mulut, dan Kulit  secara cuma-cuma di Poliklinik Immanuel Boswezen Sorong. Tim kami yang hadir yaitu saya dr. Titus Taba SpTHT-KL, dr. Jenny Ritung SpKK, drg. Irwin Sihombing, dr. Susi Jitmau, paramedis dan beberapa anggota Yayasan Kasih Immanuel Sorong. Cukup banyak jemaah dan anggota masyarakat yang hadir. Ada kurang lebih 172 orang yang berobat, 102 orang yang berobat  penyakit Telinga dan Kulit, 70 orang berobat gigi dan mulut, dimana kurang lebih 35 orang  menjalani ekstraksi ( pencabutan ) gigi sesuai indikasi. 

Tahun lalu juga dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-3, Yayasan Kasih Immanuel Sorong juga mengadakan  Operasi Mata Katarak secara gratis bagi 134 mata lansia yang tidak mampu di wilayah Sorong dan kabupaten pemekaran sekitarnya. Pada saat itu, kami mengundang 8 orang Dokter Spesialis Mata dari Perdami Jawa Barat / RS Mata Cicendo Bandung. 

Memang, perlu kita galakkan kerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan suatu karya nyata yang sangat berarti bagi masyarakat yang tidak mampu. . . . ” karena untuk itu kita dipanggil untuk menghasilkan buah . . ” Amin

Rabu, 11 Februari 2009

PELAYANAN KE PEDALAMAN WARBEFOR, 07 FEBRUARI 2009

Dalam upaya memberi penyuluhan kesehatan telinga - pendengaran, kesehatan kulit, dan HIV-AIDS, sekaligus mengadakan pengobatan cuma-cuma kepada masyarakat yang ada di pedalaman Sorong, maka Tim kami mengadakan kunjungan ke Warbefor.
Tengah malam itu, udara sangat dingin dengan hujan rintik-rintik ketika kami memutuskan untuk berangkat ke Makbon dengan menumpang mobil Avanza. Sebagian rombongan kami sudah mendahului sejak sore hari dengan menggunakan mobil angkutan. Makbon, sebuah kota kecamatan, dipilih menjadi tempat transit untuk memualai perjalanan yang jauh dari Sorong ke Sausapor untuk selanjutnya menuju tujuan akhir di Kampung Warbefor – Wor yang waktu itu masih wilayah distrik Sausapor.
Kami bermalam di Makbon karena menurut rencana perjalanan ke Sausapor harus tepat waktu pada pukul 4 subuh esok harinya. Kami sementara mengaso di sebuah rumah kosong milik seorang pengusaha lokal, dengan beralaskan terpal plastik warna oranye. Ada aroma kurang sedap dan debu yang menyengat hidung. Ternyata rumah itu selama ini digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang dagangan milik pengusaha itu. Tetapi apa boleh buat. Dari pada kami harus tidur di alam terbuka, masih lumayan ada yang mau memberi tumpangan untuk tidur sebentar dan terlindung dari semilir angin laut yang dingin.
Pagi hari, bangun lebih awal karena takut terlambat. Ternyata hujan dan angin kencang mengharuskan kami untuk menunda perjalanan sampai betul-betul tenang. Jam 10 pagi persiapan dimulai dengan lebih dahulu membawa barang-barang ke atas kapal kayu Amalohi yang biasa membawa penumpang dari Makbon ke Sausapor. Setelah itu, penumpang mulai naik ke atas kapal itu. Ternyata ada banyak penumpang yang akan menggunakan kapal itu. Mungkin ada seratusan lebih, padahal kapal tersebut hanya memiliki kapasitas maksimal 70 penumpang. Tapi karena tidak ada alternatif lain, kami turut berdesakan dengan penumpang lain dan kami mengambil tempat duduk di atas atap kapal. Perjalanan sangat menyenagkan karena kami dapat melihat pemandangan luas ke segala penjuru mata angin dan desiran angin laut yang lembut sehingga membuat mengantuk. Tapi, ada juga perasaan takut karena muatan kapal melebihi kapasitas maksimal, berarti sarana keselamatan life jacket pasti terbatas. Saya mengambil kesempatan untuk tidur sebentar demikian juga penumpang lain yang duduk di atas atap kapal.

Penumpang berdesakan sehingga ada yang duduk di atas atap Kapal Amalohi
Karena pergerakan kapal Amalohi terlalu lambat – oleh sebab kelebihan muatan – kami tiba di Sausapor sekitar jam 5 sore. Dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di Sausapor, padahal jarak tsb bisa ditempuh dalam 4 jam. Berarti kami harus bermalam di Sausapor karena perjalanan ke Warbefor tidak mungkin dilakukan dalam kegelapan malam yang sudah mulai turun. Karena kelelahan, kami menikmati tidur dengan lelap sekali.
Jam 6 pagi kami sudah bersiap lagi. Rombongan pertama yang akan berangkat adalah Tim Medis karena mengejar waktu agar ketika tiba di Warbefor pada siang hari, pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat dimulai. Jam 7, boat mulai bergerak meninggalkan Sausapor. Saya ikut rombongan pertama dengan menumpang Long Boat berkekuatan 40 PK. Rombongan besar lainnya akan naik kapal Amalohi – yang terlambat berangkat karena masih mengisi bahan bakar. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Muara Kwor, check point pertama sebelum masuk ke pedalaman Warbefor. Cuaca sangat cerah mengiringi perjalanan kami. Ketika melewati Pulau Dua – pulau yang sangat terkenal karena terdapat bekas pangkalan udara sekutu pada waktu PD ke-2- ombak mulai mambuat long boat kami goyang. Tiga orang penumpang terlindung atap boat, dua orang termasuk saya duduk di tengah boat tanpa atap penutup dan dua orang di depan. Wajah gembira terpancar di wajah para penumpang, apalagi percikan air laut membuat wajah mereka kelihatan tetap segar padahal pagi hari tadi-karena terdesak waktu- sebagian besar tidak mandi. Beberapa nelayan yang mencari ikan di sekitar perairan Werbes ( Werur Besar ) melambaikan tangannya kepada kami. Kami sempat mengabadikan mereka dengan kamera digital, sambil sesekali saya mengambil foto teman-teman yang ada dalam boat. Di kejauhan mulai nampak Muara Kwor, tempat check point pertama, dimana kami menunggu rombongan lainnya untuk secara bersama masuk ke Warbefor.

Bersama masyarakat di Muara Kali Kwor. Sebelum masuk Warbefor
Bersama masyarakat di Muara Kali Kwor. Sebelum masuk Warbefor






Jam 8, kami tiba di Muara Kwor. Hanya tampak 2 anak kecil bermain di pantai. Memang jarak perkampungan penduduk dan tepi pantai tempat kami berlabuh cukup jauh. Tak berapa lama, masyarakat mulai berdatangan. Mungkin mereka penasaran tentang siapa dan untuk apa kami datang.

Senin, 26 Januari 2009

FOTO-FOTO PERJALANAN KE FEF - KABUPATEN SORONG


Foto Perjalanan ke Fef – Kabupaten Sorong

Kegiatan kali ini dilaksanakan bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Sorong dbp. Ny. Nancy Malak. Pokok kegiatan adalah Penyuluhan Kesehatan, Pengobatan Massal kepada masyarakat, pembinaan-pembinaan dan  pelatihan keterampilan kepada ibu-ibu PKK.

Persiapan keberangkatan, di bandara DEO Sorong
Persiapan keberangkatan, di bandara DEO Sorong
Pengalungan bunga di bandara Fef
Pengalungan bunga di bandara Fef
Drg. Irwin Sihombing, Dr. Grace Tenoch SpM
Drg. Irwin Sihombing, Dr. Grace Tenoch SpM
. . . jerih payahmu tidak sia-sia . . .
. . . jerih payahmu tidak sia-sia . . .
Children in Fef - Sorong, Papua Barat - Indonesia
Children in Fef - Sorong, Papua Barat - Indonesia
Grandima with traditional's wear, Fef-Sorong, Papua Barat-Indonesia
Grandima with traditional's wear, Fef-Sorong, Papua Barat-Indonesia

Rabu, 10 Desember 2008

PILATUS, SI KECIL ITU MEMBAWA KAMI KE FEF-KABUPATEN SORONG

si-kecil-pilatus 
 Perjalanan kami untuk pelayanan kesehatan ke daerah pedalaman Papua sering dilakukan lewat darat misalnya berjalan kaki, naik mobil yang kecil sampai mobil jenis dump truck; melalui laut misalnya dengan kapal kayu, speedboat atau longboat. Kali ini perjalanan kami ke pedalaman Fef menggunakan pesawat kecil Pilatus milik AMA.
Kalau bepergian dengan pesawat besar mulai dari pesawat jenis Fokker sampai dengan Boeing, rasanya biasa saja. Tetapi bepergiarn dengan pesawat jenis Pilatus ( pesawat  kecil dengan baling-baling depan, berpenumpang 8 orang ) sungguh merupakan perjalanan yang mengasyikkan tetapi sekaligus dapat membangkitkan rasa takut.
Perjalanan ke Distrik Fef ini dilakukan dalam rangka program kunjungan kerja ke Distrik dari Ibu Ketua Tim Penggerak PKK  Kabupaten Sorong, Ny. Nancy Malak. Seperti biasanya, perjalanan ini mengajak Tim kami yang memang memiliki komitmen untuk melayani kesehatan masyarakat di pedalaman Papua dan Papua Barat. Saya sendiri memanfaatkan kegiatan seperti ini untuk penyuluhan kesehatan telinga - pendengaran sekaligus memeriksa dan memberi pengobatan pada kasus-kasus infeksi THT dan gangguan pendengaran

Senin, 08 Desember 2008

BAKTI SOSIAL 4 HARI DI KABUPATEN SUPIORI - PAPUA, 1 - 4 DESEMBER 2008

pelabuhan-korido-supiori-papua 
Udara cukup cerah di pagi hari 1 Desember 2008, ketika kami tiba di Biak. Perjalanan dari Sorong ke Biak cukup melelahkan, karena tidak ada penerbangan langsung dari Sorong ke Biak. Harus singgah dulu dan bermalam untuk semalam di Jayapura karena penerbangan Sorong – Jayapura tidak connect dengan penerbangan Jayapura – Biak. Kami harus terbang ke arah Timur dahulu lalu balik lagi ke arah Barat. Sayang, ya . . Membutuhkan waktu dan biaya yang besar, tetapi karena kerinduan yang dalam untuk melayani saudara-saudara kami di pedalaman maka semua dilakukan dengan senang hati. Dari Biak, kami harus menempuh perjalanan lagi selama kurang lebih 2 jam menuju ke Ibukota Supiori, Sorendoweri. Tim kami mendapat fasilitas 2 buah kendaraan. Saya, Dr. Taba SpTHT ( dokter spesialis telinga hidung dan tenggorok ) mendampingi Dr. Edwell SpOG ( dokter spesialis kebidanan dan kandungan ) menumpang mobil Dinas Kesehatan Kabupaten Supiori yang langsung dikemudikan oleh Kadinkes Kabupaten Supiori, dr. Jenggo SKed. Kendaraan yang satu lagi dikemudikan Dokter PKM Sabarmiokre, Dr. Gerard SKed membawa serta Dr. Jenny SpKK ( dr spesialis kulit & kelamin ), Dr. Adrina SpA ( dr spesialis anak ) dan seorang perawat, Ztr. Mangulu.

Ketika tiba di Puskesmas Rawat Inap Maysram, terlihat aktifitas baksos sudah dimulai karena dokter mata dari Manado ( Dr. Grace Tenoch SpM, Dr. Decky SpM ) bersama seorang perawat mata telah melayani pasien-pasien mata. Mereka sudah tiba 2 hari lebih awal melalui penerbangan Manado-Makassar-Biak. Juga terlihat sedang membantu melayani pasien umum, adik-adik para dokter PTT yang masih muda ( Dr. Catharina, Dr. Tina dan Drg. Mentari ). Salut buat mereka yang dengan motivasi tinggi mengabdikan profesi mereka di daerah yang jauh dari keramaian dan fasilitas memadai seperti yang dirasakan rekan-rekan mereka yang bertugas di kota.
Setelah makan siang bersama, kegiatan baksos dimulai lagi dengan membuka poliklinik spesialis untuk Anak, penyakit Kulit – Kelamin, penyakit Kebidanan-Kandungan dan penyakit THT. Banyak masyarakat yang hadir karena pelayanan spesialis secara gratis seperti ini hanya mereka temui satu kali dalam setahun. Biasanya, bila mereka membutuhkan pelayanan spesialis, mereka harus ke Biak dengan biaya besar dan di Biak pun dokter spesialis belum lengkap karena belum ada dokter spesialis Mata, THT, dan Kulit-Kelamin. Perjalanan baksos Tim kami ini merupakan kali ke-3 setelah sebelumnya kami hadir di bulan Nopember 2006 dan Oktober 2007 atas undangan Tim penggerak PKK Kabupaten Supiori. Masyarakat tentunya sangat senang, karena disamping mereka berkonsultasi, mereka juga mendapatkan pelayanan pengobatan dan bila perlu menjalani tindakan operasi dengan anestesi lokal secara cuma-cuma. Masyarakat juga mendapat jatah makan siang yang disiapkan oleh Pemerintah dalam hal ini Bupati Supiori-Bapak Jules Warikar.
Pelayanan baksos berakhir sampai hari mulai gelap. Kecuali dokter spesialis mata yang harus menyelesaikan operasi Katarak sampai tengah malam. Masyarakat diantar kembali ke kampung mereka menggunakan kendaraan Pemda, terlihat ada 5 buah bus Pemda berwarna biru muda yang standby menunggu masyarakat yang hendak pulang. Para dokter, kecuali dokter mata, diantar ke rumah kediaman Bupati Supiori di Korido – kurang lebih 1 jam perjalanan lagi ke arah selatan – untuk beristirahat karena besok pagi mereka harus turkam alias turun ke kampung-kampung diantaranya Sowek ( distrik Kepulauan Aruri ), Korido ( distrik Supiori Selatan ), Sabarmikore ( distrik Supiori Barat ).
Disela-sela kegiatan pengobatan massal kepada masyarakat, juga dilakukan penyuluhan kesehatan terutama masalah HIV-AIDS yang semakin meningkat kasusnya di tanah tercinta, Papua.  Saya sendiri, selaku dokter spesialis THT, memberi penyuluhan kesehatan telinga dan upaya menjaga pendengaran tetap baik terutama bagi anak-anak, remaja dan pemuda sebagai generasi penerus.
Terima kasih atas pengabdian para dokter-dokter Tim Pelayanan Kasih Peduli Papua.
Terima kasih kepada Pemda Kabupaten Supiori dalam hal ini Dinkes Kabupaten Supiori dan Tim Penggerak PKK, yang sudah memfasilitasi kehadiran Tim bagi pelayanan pengabdian yang mulia ini. Suatu bentuk keberpihakan Pemda bagi kesejahteraan masyarakatnya yang patut diacungi jempol. Karena itu sepatutnya menjadi contoh bagi kabupaten lain di Papua dan Papua Barat dalam mengimplementasikan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Semoga.

Kamis, 27 November 2008

PERJALANAN BAKTI SOSIAL KESEHATAN DI KAIMANA (2)

Menanti di ruang tunggu keberangkatan pesawat sangat membosankan.  Apalagi ruang itu kotor,  terasa panas karena tidak ada AC dan Fan tidak berfungsi atau belum difungsikan. Nampaknya petugas terlambat masuk kerja. Ditambah lagi polusi asap rokok  karena belum ada areal khusus bagi perokok. Maklum ruang tunggu bandara masih terbatas. Mestinya saya mengetahui pasti perubahan jadwal pesawat yang mendadak harus mengantar penumpang lain lebih dahulu ke Teminabuan. Dalam kemajuan tehnlogi komunikasi saat ini, bisa saja saya menanyakan tentang kepastian jadwal keberangkatan supaya saya tidak perlu terburu-buru ke bandara dan menjadi kurang nyaman menunggu seperti ini. Saya menyesali diri saya sendiri sekaligus memaafkan. Sebelumnya , pada waktu mengambil tiket tidak ada informasi tentang itu, tetapi hanya disampaikan oleh pihak Merpati bahwa pesawat ke Kaimana akan berangkat pada pukul 08.00 sehingga harus melapor paling lambat pukul 06.30.
Saya mengisi kekosongan dengan mengobrol kepada beberapa penumpang yang mau berangkat ke Kaimana. Juga sudah tampak beberapa penumpang yang akan menuju daerah lain seperti ke Babo ( sebuah daerah di Kabupaten Teluk Bintuni yang tidak jauh dari Sorong )  dan  ke kota lain seperti FakFak, Manado, Makassar, Jakarta. Memang Sorong menjadi salah satu pintu gerbang di Papua yang menjadi tempat transit penumpang yang masuk atau meninggalkan Papua.
Salah seorang penumpang dari Manokwari yang akan menuju Kaimana berceritera kalau seharusnya dia  sudah berangkat ke Kaimana dengan pesawat z-air ( nama samaran ), tetapi karena pesawat tsb gagal untuk lepas landas di Bandara Manokwari – tentunya membuat trauma tersendiri – sehingga dia memutuskan untuk berangkat ke Sorong dengan kapal laut milik Pelni dan membeli tiket pesawat lain yang akan ke Kaimana.
Pukul 09.00, pesawat Merpati tujuan Kaimana – dengan rute transit di FakFak –  lepas landas meninggalkan Sorong. Sampai jumpa.