GANGGUAN PENDENGARAN PADA MASA KECIL
ATASI SEKARANG, BEGINI CARANYA!
Diterjemahkan oleh : Irene Carolin – 1115054 – FK Maranatha Bandung
60% dari gangguan pendengaran pada masa kecil dapat dicegah; ketika
tidak terhindarkan, diperlukan intervensi yang sesuai untuk memastikan
anak-anak dengan gangguan pendengaran mencapai potensi penuh mereka.
Cara manusia melihat dunia mereka dimediasi melalui pengalaman
sensorik. Dari semua indera, pendengaran memfasilitasi secara
fundamental komunikasi dan mendorong interaksi sosial, memungkinkan
orang untuk menjalin hubungan, berpartisipasi dalam kegiatan
sehari-hari, waspada terhadap bahaya, dan pengalaman peristiwa
kehidupan.
Sekitar 360 juta orang – 5% dari populasi dunia- hidup
dengan gangguan pendengaran yang dianggap kecacatan; 32 juta
diantaranya adalah anak-anak. Sebagian besar tinggal di negara-negara
berpenghasilan rendah dan menengah.
Untuk anak-anak mendengar
adalah kunci untuk belajar bahasa lisan, akademis, dan terlibat dalam
sosial. Gangguan pendengaran berperan sebagai penghalang untuk
pendidikan dan integrasi sosial. Sebagai anak-anak dengan gangguan
pendengaran bisa mendapatkan keuntungan besar jika diidentifikasi di
awal kehidupan dan mendapat intervensi yang tepat.
WHO (World
Health Organization) memperkirakan sekitar 60% dari anak-anak dengan
gangguan pendengaran dapat dihindari melalui langkah-langkah pencegahan.
Ketika tidak dapat dihindari, intervensi yang diperlukan untuk
memastikan anak-anak mencapai potensi penuh adalah rehabilitasi,
pendidikan dan pemberdayaan. Tindakan diperlukan di kedua bidang.
Apa dampak dari gangguan pendengaran jika tidak diatasi?
Meskipun dampak yang paling jelas dari gangguan pendengaran pada masa
kanak-kanak adalah akuisisi bahasa, gejala lain juga memiliki
konsekuensi bagi keseluruhan keaksaraan, pengembangan keterampilan
sosial dan sikap, termasuk harga diri. Gangguan pendengaran yang tidak
diobati sering dikaitkan dengan akademis yang buruk sehingga dapat
menyebabkan penurunan prestasi kerja dan peluan lapangan kerja yang
lebih sedikit di kemudian hari. Untuk anak, kesulitan dalam komunikasi
dapat mengakibatkan perasaan marah, stres, kesepian dan konsekuensi
emosional atau psikologis yang mungkin memiliki efek mendalam pada
keluarga secara keseluruhan. Dalam keadaan sumber daya rendah dimana
seorang anak berisiko lebih tinggi untuk cedera, gangguan pendengaran
dapat menempatkan anak di situasi yang tidak aman akibat penurunan
kewaspadaan. Dalam konteks yang lebih luas, gangguan pendengaran yang
tidak diatasi dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan ekonomi
masyarakat dan negara.
Sejumlah faktor yang dapat menentukan dampak dari gangguan pendengaran pada individu, meliputi :
• Onset usia : tahun-tahun awal kehidupan adalah periode yang optimal
untuk perkembangan berbicara dan berbahasa. Dampak gangguan pendengaran
terbesar adalah pada mereka yang dilahirkan dengan atau perkembangan
gangguan pendengaran segera setelah lahir.
• Derajat gangguan
pendengaran : hal ini dapat berkisar dari ringan sampai sangat berat.
Semakin tinggi tingkat keparahan, semakin besar dampaknya.
• Usia
teridentifikasi dan terintervensi : semakin cepat seorang anak
teridentifikasi gangguan pendengaran, dan sebelumnya sudah menerima
layanan dukungan, semakin besar kesempatan untuk belajar bahasa lisan.
The Joint Committee on Infant Hearing merekomendasikan semua anak
dengan gangguan pendengaran harus menerima intervensi di usia enam
bulan. Identifikasi dan intervensi awal juga dapat mengurangi secara
signifikan peningkatan biaya pendidikan terkait dengan gangguan
pendengaran, dan meningkatkan kapasitas produktif di kemudian hari.
• Lingkungan : lingkungan hidup secara keseluruhan, termasuk akses
dalam pelayanan, secara signifikan mempengaruhi perkembangan anak dengan
gangguan pendengaran. Anak-anak dengan gangguan pendengaran yang
memiliki akses untuk teknologi pendengaran seperti alat bantu dengar dan
implan koklea, bahasa isyarat dan pendidikan khusus, dapat
berpartisipasi atas dasar kesetaraan dengan rekan-rekan mereka yang
dapat mendengar secara normal. Orang tua dan dukungan keluarga kelompok
memfasilitasi pembangunan sosial anak dengan gangguan pendengaran.
Studi Kasus :
Piseth (nama samaran) adalah gadis berusia delapan tahun yang tinggal
di pedesaan Kamboja. Dia menderita infeksi telinga sehingga
mengakibatkan keluar cairan dari telinganya.. Masalahnya begitu umum
bagi anak-anak Kamboja sehingga penduduk desa sering menganggapnya
normal. Penyakit ini, bagaimanapun, menyebabkan gangguan pendengaran
yang mungkin memiliki efek jangka panjang yang berdampak pada
pengembangan komunikasi, bahasa dan kemajuan pendidikan.. Jika dibiarkan
tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi medis serius dan bahkan
kematian.. Masalah Piseth ditemukan oleh tim medis penjangkauan.
Kondisinya begitu parah sehingga tidak hanya kehilangan sebagian dari
pendengarannya, penyakit ini telah menghancurkan tulang di tengkoraknya.
Dia menjalani operasi segera untuk menghilangkan jaringan dan tulang
yang telah terinfeksi. Setelah operasi, telinganya membaik dan dia pergi
kembali ke desa dan sekolahnya. Kemajuannya dipantau secara rutin oleh
tim medis.
Apa yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada anak?
Gangguan pendengaran pada anak-anak memiliki banyak penyebab, termasuk
akibat keturunan, yang berarti penyebab itu sudah ada saat dilahirkan
maupun segera setelah itu, dan karena penyebab yang diperoleh pada usia
kanak-kanak. Gangguan pendengaran mungkin hasil kombinasi dari beberapa
faktor tersebut. Namun, hal ini tidak selalu memungkinkan untuk
menentukan penyebab pasti.
Penyebab gangguan pendengaran pada anak dapat meliputi :
1. Faktor genetik : hampir 40% menyebabkan gangguan pendengaran pada
anak. Telah terbukti bahwa gangguan pendengaran jauh lebih sering pada
anak yang lahir dari pernikahan kerabat atau perserikatan antara dua
individu yang terkait erat. Cacat bawaan dari telinga dan saraf
pendengaran yang merupakan hasil dari pengaruh faktor genetik atau
lingkungan, dapat dikaitkan dengan gangguan pendengaran.
2.
Kondisi saat lahir : dapat berupa prematuritas, berat badan bayi lahir
rendah, kekurangan oksigen atau lahir asfiksia, dan penyakit kuning.
3. Infeksi : selama kehamilan ibu mungkin memperoleh infeksi tertentu
seperti rubella dan cytomegalovirus yang menyebabkan gangguan
pendengaran pada anak. Selain itu meningitis, gondok, dan campak pada
anak juga dapat mengakibatkan gangguan pendengaran. Infeksi telinga umum
ditemukan pada anak-anak di dengan sumber daya rendah. Hal ini dapat
menyebabkan keluarnya cairan dari telinga (otitis media supuratif
kronis). Selain gangguan pendengaran, infeksi telinga dapat menyebabkan
komplikasi seperti mengancam jiwa.
4. Penyakit telinga : masalah
telinga yang umum dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada anak-anak.
Ini termasuk terlalu banyak kotoran telinga (serumen) dan lem telinga
(otitis media non supuratif) yang disebabkan oleh akumulasi cairan di
dalam telinga.
5. Bising : suara keras, termasuk perangkat audio
pribadi seperti smartphone dan MP3 player yang digunakan pada volume
keras untuk waktu yang lama, dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
Bahkan suara dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat seperti dari
kembang api dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Bising
mesin dalam unit perawatan intensif neonatal juga dapat berkontribusi
untuk gangguan pendengaran.
6. Obat-obatan : obat-obatan, seperti
yang digunakan dalam pengobatan infeksi neonatal, malaria, obat
tuberkulosis dan kanker, dapat menyebabkan gangguan pendengaran
permanen. Obat ini memiliki sifat ototoksik. Di banyak bagian dunia,
terutama dimana penggunaannya tidak diatur, anak-anak umumnya menerima
antibiotik ototoksik untuk pengobatan infeksi umum.
Studi Kasus
Congenital rubella syndrome (CRS) bisa menyebabkan gangguan
pendengaran, mata dan jantung dan cacat seumur hidup lainnya, termasuk
autisme, diabetes mellitus dan gangguan fungsi tiroid. CRS telah
memiliki dampak signifikan pada kehidupan keluarga Thai dari Bangkok.
Ketika Chi hamil putrinya Im, suaminya sakit dan memiliki ruam kulit.
Dia juga jatuh sakit dengan gejala yang sama beberapa hari kemudian -
gejala klasik rubella. Chi pergi ke dokter dan diberitahu dia akan
baik-baik saja. Namun, dia menyadari bahwa dia sedang hamil satu bulan.
Setelah Im lahir, orangtuanya menyadari bahwa dia memiliki masalah
dengan penglihatannya. Tidak lama makin jelas bahwa dia juga tidak bisa
mendengar. "Im menderita tuli", Chi menjelaskan "Dia tidak bisa
mendengar, atau berbicara ". Chi berharap bahwa dengan rehabilitasi yang
baik, putrinya dapat menjalani hidup yang sehat dan bahagia. Risiko
tertinggi CRS adalah di negara-negara dimana wanita usia subur tidak
memiliki kekebalan untuk penyakit (baik melalui vaksinasi atau dari
pernah mengalami rubella). Vaksinasi besar-besaran rubella selama dekade
terakhir secara praktis menghilangkan rubella dan CRS di negara maju
dan di beberapa negara berkembang. Pada bulan April 2015, WHO Wilayah
Amerika menjadi yang pertama di dunia yang akan menyatakan bebas
penularan endemik rubella.
Berapa banyak gangguan pendengaran pada anak yang dapat dicegah?
WHO memperkirakan bahwa sekitar 60% dari gangguan pendengaran pada anak
di bawah usia 15 tahun dapat dicegah. Angka ini lebih tinggi didapatkan
di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (75%) dibandingkan
dengan negara-negara berpenghasilan tinggi (49%). Perbedaannya bisa
disebabkan karena tingginya angka kejadian ganguan pendengaran akibat
infeksi pada daerah dengan sumber daya rendah serta pelayanan kesehatan
yang baik pada ibu dan anak di negara-negara berpenghasilan tinggi.
Lebih dari 30% anak-anak dengan gangguan pendengaran disebabkan oleh
penyakit seperti campak, gondok, rubella, meningitis dan infeksi
telinga. Ini dapat dicegah melalui imunisasi dan praktek kebersihan yang
baik. 17% gangguan pendengaran anak-anak merupakan hasil dari
komplikasi saat lahir, termasuk prematuritas, berat badan lahir rendah,
lahir asfiksia dan penyakit kuning. Peningkatan praktek kesehatan ibu
dan anak akan membantu mencegah komplikasi ini. Penggunaan obat
ototoksik pada ibu hamil dan bayi yang baru lahir bertanggung jawab 4%
gangguan pendengaran pada anak-ana, hal ini berpotensi bisa dihindari.
Mengapa identifikasi awal begitu penting?
Identifikasi awal gangguan pendengaran pada anak-anak secara tepat
waktu dan tepat intervensi dapat meminimalkan keterlambatan perkembangan
dan memfasilitasi komunikasi, pendidikan dan pembangunan sosial.
Program skrining pendengaran untuk bayi dan anak-anak bisa
mengidentifikasi gangguan pendengaran di usia sangat muda. Untuk
anak-anak dengan gangguan pendengaran bawaan, kondisi ini dapat
dideteksi pada hari pertama setelah lahir.
Penelitian menunjukkan
bahwa anak-anak yang lahir tuli atau memperoleh gangguan pendengaran
pada saat awal kehidupan harus segera menerima intervensi yang tepat
untuk membantu perkembangan bahasa pada saat mereka mencapai usia lima
tahun.
Bagi anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran di atas
usia lima tahun, skrining pra sekolah dan saat sekolah dapat secara
efektif mengidentifikasi gangguan pendengaran segera setelah onset,
dengan demikian dapat membatasi dampak yang merugikan.
Studi Kasus:
Ibu Charlie, Lindsey, belum pernah mengetahui tentang infeksi
cytomegalovirus (CMV) selama masa kehamilannya. Segera setelah Charlie
lahir, Charlie gagal dalam tes pendengaran dan telah dikonfirmasi bahwa
dia tuli telinga sebelah kiri. Ketika Charlie beranjak usia 3 tahun,
pendengaran pada telinga kanannya juga terganggu. Infeksi CMV yang
diderita Lindsey selama masa kehamilannya dinyatakan sebagai
penyebabnya. Sekarang Charlie tumbuh sebagai seorang gadis yang cerdas
yang pergi ke sekolah dan dapat mengikuti dengan baik, dengan bangga
menggunakan alat bantu dengarnya yang berwarna pink berkilauan.
Infeksi CMV merupakan penyebab yang penting, namun korelasi dengan
gangguan pendengaran masih belum diketahui. The United States Centers
for Disease Control and Prevention memperkirakan bahwa 1 dari 150 anak
lahir dengan infeksi CMV dan 1 dari 5 orang yang terinfeksi akan
berkembang menjadi masalah yang permanen, seperti gangguan pendengaran
atau perkembangan yang buruk. CMV disebarkan melalui kontak dengan
cairan tubuh (air liur dan air seni) dari orang yang terinfeksi. Hal
ini dapat dihindari melalui konseling bagi wanita hamil mengenai sumber
infeksi dan kebersihan, seperti mencuci tangan secara teratur,
menghindari berbagi makanan, menghindari kontak dengan air liur saat
berciuman dengan anak dan membersihkan permukaan yang bersentuhan air
liur atau air seni.
Apa strategi untuk pencegahan dan perawatan?
Tindakan diperlukan untuk mengurangi gangguan pendengaran dan
meningkatkan hasil bagi anak-anak dengan gangguan pendengaran.
Pemerintah, lembaga kesehatan masyarakat, organisasi pelayanan sosial,
lembaga pendidikan dan kelompok masyarakat sipil semua perlu
berkolaborasi dalam usaha ini.
Demi mencapai hasil yang diinginkan, hal yang dibutuhkan :
1. Memperkuat :
a. Program imunisasi: untuk mencegah infeksi yang menyebabkan gangguan
pendengaran bawaan, seperti rubella, meningitis, gondok dan campak.
Lebih dari 19% dari anak-anak berpotensi terhindar dari gangguan
pendengaran melalui imunisasi terhadap rubella dan meningitis.
TINDAKAN: Cantumkan vaksin ini dalam program imunisasi nasional dan pastikan cakupannya luas.
b. Program kesehatan ibu dan anak untuk mencegah prematuritas, berat
badan bayi lahir rendah, lahir asfiksia, penyakit kuning dan infeksi
cytomegalovirus.
TINDAKAN: Meningkatkan kesehatan ibu dan anak
Nutrisi yang baik
Kesadaran tentang praktek kebersihan
Penyuluhan tentang kelahiran yang aman
Penanganan yang tepat untuk infeksi neonatal dan penyakit kuning
c. Organisasi penderita gangguan pendengaran, kelompok dukungan orang tua dan keluarga
TINDAKAN: Mendorong terbentuknya kelompok dukungan untuk penderita gangguan pendengaran dan keluarganya.
2. Pelaksanaan :
a. Skrining pendengaran bayi baru lahir dan bayi memulai intervensi
yang tepat untuk mengidentifikasi dan habilitasi anak-anak dengan bawaan
atau onset awal-gangguan pendengaran onset. Program skrining
pendengaran bayi baru lahir harus diikuti dengan pendekatan yang
berpusat pada keluarga.
TINDAKAN: MasuKkan program intervensi awal, yang berfokus pada:
intervensi yang tepat, idealnya dimulai sebelum usia enam bulan
dukungan keluarga, termasuk bimbingan dan konseling dari orang tua
rehabilitasi pendengaran melalui alat bantu dengar dan implant koklea
terapi yang cocok dan komunikasi pilihan
b. Skrining pendengaran berbasis sekolah dengan tujuan untuk
mengidentifikasi, merujuk dan mengelola penyakit telinga yang umum dan
gangguan pendengaran.
TINDAKAN: Mengintegrasikan skrining
pendengaran ke dalam program kesehatan sekolah dan mengembangkan
penyediaan pelayanan yang sesuai: medis, bedah dan rehabilitasi.
Studi Kasus :
Bahasa isyarat telah memiliki penting dampak positif pada kehidupan
Patrick, seorang pemuda dari daerah terpencil Uganda. Lahir tuli dan
tidak tersedia sekolah untuk anak-anak tuna rungu di daerahnya, ia
menghabiskan sebagian besar waktunya tanpa pengetahuan bahasa isyarat
dan tanpa komunikasi. Kebanyakan hari Patrick dihabiskan sendirian di
gubuknya, terisolasi dari dunia. Uganda National Association of the
Deaf, sebuah nirlaba yang didedikasikan untuk memberdayakan individu
dengan gangguan pendengaran, diselenggarakan untuk Patrick untuk
mengadakan kelas bahasa isyarat pertama ketika ia berusia 15 tahun.
Kelas-kelas ini mengubah hidup Patrick. Dia masih mengambil kelas sampai
hari ini dan memiliki harapan untuk mengajar orang-orang tuli lain di
masa depan. Pengalaman Patrick yang dilaporkan melalui film dokumenter
disebut "15 dan belajar untuk berbicara".
3. Melatih :
a.
Dokter layanan primer dan petugas kesehatan tentang relevansi penyakit
telinga dan kebutuhan untuk intervensi awal gangguan pendengaran dan
pilihan pengobatannya. Ini akan memungkinkan penyediaan layanan yang
dapat diakses dan memfasilitasi rujukan untuk manajemen mereka. WHO
mendokumentasikan tentang sumber daya pelatihan peduli telinga dan
pendengaran, satu set empat pelatihan manual, dan rehabilitasi berbasis
masyarakat: penyuluhan perawatan telinga dan pendengaran melalui CBR
adalah sumber daya yang berguna untuk ini.
TINDAKAN: Membangun program pelatihan perawatan telinga dan pendengaran untuk penyedia layanan kesehatan tingkat SD.
b. Otologis, profesional audiologi, profesional medis lainnya (seperti
perawat), terapis dan guru untuk memberikan pelayanan dan perawatan yang
diperlukan. Ini adalah sebuah langkah penting untuk mengatasi masalah
telinga dan pendengaran.
TINDAKAN: Mengatur program pelatihan
professional untuk mengembangkan sumber daya manusia di bidang kesehatan
pendengaran dan pendidikan untuk orang-orang dengan gangguan
pendengaran.
Studi Kasus :
Ngoc lahir di Viet Nam, dan
segera setelah ia lahir keluarganya memperhatikan bahwa dia tidak
menanggapi suara sekelilingnya. Ketika Ngoc berusia 15 bulan, orang
tuanya membawanya ke dokter untuk tes pendengaran di mana dikonfirmasi
bahwa dia memiliki gangguan pendengaran yang parah. Keluarga Ngoc merasa
terpuruk karena mereka tidak tahu bagaimana menangani tantangan ini.
Dokter menyarankan alat bantu dengar untuk Ngoc dan mengikuti program
pendidikan untuk anak-anak yang tuli dan sulit mendengar untuk
mendapatkan tambahan informasi. Sebuah organisasi non-profit yang
bekerja di Viet Nam membantu Ngoc mencari sepasang alat bantu dengar
yang sesuai ketika dia berusia 17 bulan. Setelah menggunakan alat bantu
dengar, Ngoc segera menanggapi suara di sekelilingnya. Dia kemudian
mendaftarkan diri ke dalam program intervensi awal di mana dia membuat
kemajuan besar, dan belajar untuk mendengar dan berbicara.
4. Kemudahan akses :
a. Alat bantu dengar : kemajuan di bidang alat bantu dengar dan implan
koklea telah ditingkatkan dengan banyaknya pilihan yang tersedia untuk
orang dengan gangguan pendengaran. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari
mereka yang membutuhkan perangkat ini dapat mengaksesnya, karena
kurangnya ketersediaan dan biaya tinggi.
TINDAKAN: Mengembangkan
inisiatif berkelanjutan untuk harga dan pemeliharaan alat bantu yang
terjangkau, juga dapat memberikan dukungan berkelanjutan bagi mereka
yang menggunakan perangkat ini.
b. Komunikasi : pengenalan awal
bahasa sangat bermanfaat bagi anak tunarungu. Hal ini merupakan salah
satu bentuk rehabilitasi berupa komunikasi verbal, seperti terapi
pendengaran-verbal dan pendengaran-lisan. Pembuat kebijakan juga harus
mempromosikan komunikasi alternatif termasuk bahasa tubuh, komunikasi
total, bilingual / bikultural (bi-bi), bahasa isyarat dan pendekatan
membaca bibir. Gunakan putaran dan sistem FM di ruang kelas dan
tempat-tempat umum serta penyediaan caption pada media audio visual
penting untuk meningkatkan aksesibilitas komunikasi untuk orang dengan
gangguan pendengaran.
TINDAKAN: Menjamin akses komunikasi melalui
semua media tersedia, dalam konsultasi dengan para pemegang
kepentingan, termasuk orang-orang dengan gangguan pendengaran.
5. Pengaturan dan pemantauan :
a. Penggunaan obat ototoksik untuk meminimalkan bahaya yang ditimbulkan
oleh penggunaan sembarangan. Ketika penggunaan tidak dapat dihindarkan,
pemantauan audiologi membantu mengidentifikasi gangguan pendengaran
pada tahap awal.
TINDAKAN: Mengembangkan dan melaksanakan
legislasi untuk melarang penggunaan obat ototoksik; dan penyedia layanan
kesehatan sigap tentang konservasi pendengaran saat diperlukan.
b. Mengembangkan dan menerapkan undang-undang untuk membatasi penjualan
dan penggunaan obat ototoksik; dan penyedia layanan kesehatan sigap
tentang masalah yang dapat timbul dengan pemaikaian obat tersebut.
TINDAKAN: Mengembangkan dan menerapkan peraturan mengenai lingkungan
kebisingan, termasuk di tempat-tempat rekreasi; menerapkan standard
untuk mendengarkan perangkat audio pribadi secara aman.
Studi Kasus :
Satu malam saat Paolo (nama samaran) sedang tidur di lengan ibunya,
suaminya mengambil sebuah lonceng kuningan dan menggelengkannya terus
menerus. Paolo tidak bergerak. Saat itulah mereka tahu ada sesuatu yang
ganjil. Minggu depannya spesialis di rumah sakit anak-anak mendiagnosis
Paolo gangguan pendengaran bilateral berat-hingga-sangat berat. Paolo
terdaftar di program di mana ia belajar untuk mendengarkan dan
berbicara. Ia untuk pertama kalinya menerima sepasang alat bantu dengar;
dan mulai berjalan: semua pada saat ia 10 bulan. Anak kecil yang sangat
penasaran ini senang mendengarkan dan menghabiskan waktu berjam-jam
dengan kakaknya, mewarnai dan bercakap-cakap. Paolo dimasukkan ke
sekolah dan lulus sebagai siswa teladan. Dia sekarang di tahun ketiga di
jurusan teknik mesin. Paolo menjadi sebuah inspirasi bagi semua orang
yang mengenal dia dan dia dengan bangga mengatakan bahwa ia akan terus
mengatasi tantangan di hadapannya.
6. Meningkatkan kewaspadaan publik :
a. Mengenai perawatan telinga yang sehat yang dapat mengurangi infeksi
telinga. Sebagai contoh, menghindari masuknya substansi apapun ke dalam
telinga dapat mengurangi masalah telinga. Memastikan bahwa anak dengan
sakit telinga dihindarkan dari penggunakan obat rumahan dan ditangani
oleh praktisi medis dapat mencegah infeksi telinga yang parah dan
gangguan pendengaran.
TINDAKAN: Menerapkan program kewaspadaan untuk mempromosikan perawatan telinga dan pendengaran dalam komunitas.
b. Mengenai bahaya dari suara keras dengan mendidik anak di masa
kanak-kanak mengenai risiko yang diakibatkan oleh level suara yang
merusak dari peralatan audio pribadi seperti smartphone dan tempat
hiburan yang berisik termasuk acara olahraga. Ini dapat membantu
mengubah pola perilaku dan mempromosikan mendengar yang aman, yang dapat
mencegah berkembangnya gangguan pendengaran yang disebabkan oleh
kebisingan dalam masa kanak-kanak dan dewasa.
TINDAKAN: Membangun
dan menerapkan program kewaspadaan yang menargetkan anak muda dengan
tujuan mempromosikan kebiasaan mendengar yang aman.
c. Untuk
mengurangi stigma mengenai gangguan pendengaran dalam komunitas.
Menekankan dan berbagi cerita dari orang sukses dengan gangguan
pendengaran dapat secara efektif mengurangi stigma tentang gangguan
pendengaran, alat pendengaran dan metode komunikasi alternatif.
TINDAKAN: Menggunakan contoh model untuk meningkatkan kewaspadaan mengenai pencegahan dan perawatan gangguan pendengaran.
Studi Kasus :
Janice (nama samaran) gagal pada skrining awal pendengarannya saat
lahir di Amerika Serikat dan didiagnosis dengan gangguan pendengaran
bilateral yang berat. Dia segera dipasangkan alat bantu dengar. Namun,
alat bantu dengarnya tidak menguntungkan dirinya, kemudia Janice
menerima implan koklea ketika dia berusia 1 tahun. Setelah menerima
terapi sejak usia delapan bulan, percakapan terbaru Janice dan evaluasi
bahasa mengungkapkan bahasa dan keterampilan berbicaranya agak tertunda
dibandingkan dengan anak-anak dengan pendengaran normal. Dia sekarang
mengikuti prasekolah dan terus menerima pelajaran terapi berbicara untuk
meningkatkan keterampilan artikulasinya. Selanjutnya, Janice akan
bergabung dengan anak-anak lainnya di TK.
Dalam pelaksanaan
hal-hal di atas, perencanaan strategi dapat membantu mengurangi gangguan
pendengaran dan menghilangkan dampak yang merugikan bagi penderita.
Sejalan dengan prinsip Convention on the Rights of People with
Disabilities, meningkatkan pendengaran dan akses untuk berkomunikasi
dapat memfasilitasi edukasi dan pemberian lapangan pekerjaan dan
mendorong penyertaan sosial dan psikologis yang sehat bagi para
penderita gangguan pendengaran. Banyak negara yang sudah memulai
strategi yang sejalan dengan konvensi dan telah menerapkan model unruk
pencegahan, identifikasi, dan intervensi.
Kini, penyebab dari
gangguan pendengaran sudah diketahui dan strategi pencegahan sudah
teridentifikasi; teknologi sudah tersedia untuk mendeteksi gangguan
pendengaran dini; dan teknik intervensi diterapkan dengan baik. Ribuan
anak dengan gangguan pendengaran mendapatkan komunikasi dan kemampuan
lainnya yang dibutuhkan untuk menjalani hidup, dan mempunyai
kesempatan-kesempatan yang sama dengan anak yang dapat mendengar secara
normal. Di sisi lain, jutaan anak masih menghadapi konsekuensi yang
tidak diharapkan dari gangguan pendengaran.
Diterjemahkan oleh : Irene Carolin – 1115054 – FK Maranatha
Sumber : brosur HWD 3 Maret 2016
Kamis, 03 Maret 2016
PERINGATAN HARI KESEHATAN TELINGA & PENDENGARAN 3 MARET 2016
SIAPKAN MASA DEPAN
CERAH BAGI BAYI YANG LAHIR DENGAN
GANGGUAN PENDENGARAN ATAU KETULIAN
Oleh : dr. TITUS
TABA, SpTHT-KL
Ketua Komite Daerah
Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Propinsi Papua Barat.
“ Mempersiapkan masa
depan yang cerah bagi bayi yang lahir dengan gangguan pendengaran atau ketulian, merupakan
tanggung jawab bersama dari orang tua/keluarga, tenaga kesehatan, organisasi kemasyarakatan, swasta dan pemerintah“
PENDAHULUAN
Minggu
yang lalu - tepatnya tanggal 25 Februari 2016 - Komite Daerah Penanggulangan
Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komda PGPKT) Sorong telah melaksanakan
“Simposium dan Pelatihan Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dan Ketulian Pada
Bayi Baru Lahir” bagi para dokter, bidan dan perawat se-Sorong Raya, dengan
sukses.
Kegiatan
tersebut boleh dikatakan berhasil karena dapat menghimpun sekitar 329 tenaga
kesehatan ( dokter, bidan, perawat dan mahasiswa ) se-Sorong Raya, untuk
mengikuti Simposium dan Pelatihan dengan narasumber para pakar dari Jakarta,
Bandung, Surabaya dan Sorong. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak
terlepas dari dukungan banyak pihak antara lain, IDI Cabang Sorong, Komite
Nasional PGPKT Pusat, Komda PGPKT Propinsi Papua Barat, BPJS Sorong, PKK
Kabupaten Sorong, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, RSUD Kabupaten Sorong, RSU
Sele Be Solu Kota Sorong, RSU Kasih Herlina Sorong, IBI Sorong, PPNI Sorong,
pihak swasta, peserta simposium dan pelatihan serta orang tua.
Dukungan
dari berbagai kalangan ini menunjukkan bahwa masalah deteksi dini gangguan
pendengaran dan ketulian pada bayi lahir tuli, merupakan tanggung jawab bersama
yang harus dimulai sebagai suatu gerakan kepedulian. Tanggung jawab kita
bersama menyiapkan para dokter, bidan, perawat di fasilitas kesehatan tingkat
pertama bahkan orang tua/keluarga penderita sendiri, untuk dapat melaksanakan deteksi dini
gangguan pendengaran atau ketulian pada bayi baru lahir agar bayi yang
mengalami gangguan pendengaran dan ketulian tidak terlambat penanganannya.
Bayi yang beresiko mengalami
gangguan pendengaran atau ketulian sejak lahir, harus menerima tes skrining
pendengaran dini, segera setelah lahir. Hal ini penting untuk mengetahui apakah
bayi mengalami gangguan pendengaran atau ketulian sehingga penanganan dini
dapat dilakukan, dan diharapkan bayi tumbuh optimal, karena masalah pendengaran
dapat menunda perkembangan suara, bicara, dan kemampuan bahasa bayi.
Mendengar juga memungkinkan bayi untuk
belajar bahasa dan merangsang perkembangan otaknya. Karena hal itu menjadi
begitu penting untuk mengenal dan mengatasi masalah pendengaran sedini mungkin.
(Widodo Judarwanto).
PROSES MENDENGAR
Kapan proses mendengar dimulai? Sebenarnya sudah terjadi
saat bayi masih dalam kandungan dan segera setelah bayi dilahirkan. Bayi sudah
dapat memberikan reaksi terhadap bunyi yang keras seperti terkejut, kedipan
mata, berhenti menyusui, terbangun dari tidur ataupun menangis, tetapi saat itu
bayi belum dapat menentukan dari mana asal bunyi tersebut. (Mitra Keluarga)
Kemampuan mendengar bayi akan menjadi salah satu “bekal”
baginya untuk belajar bicara. Apa yang mampu didengarnya, ikut menentukan apa
yang mampu dikatakannya. (Ayah Bunda)
Fungsi pendengaran pada bayi sangat penting. Dia akan
menggunakan pendengarannya untuk memahami dan belajar untuk berkomunikasi
dengan dunia di sekelilingnya. Beberapa bayi lahir dengan gangguan pendengaran.
Anak-anak lain yang lahir dengan pendengaran normal , bisa memiliki masalah
pendengaran saat mereka tumbuh dewasa. Bayi menggunakan telinga mereka untuk
menerima sejumlah besar informasi tentang dunia di sekitarnya. (Widodo
Judarwanto)
PERKEMBANGAN NORMAL FUNGSI
PENDENGARAN BAYI
1.
Dalam
Kandungan
Perkembangan pendengaran sebagian
besar terjadi di dalam rahim. Telinga bagian dalam bayi sepenuhnya berkembang
pada minggu ke-20 kehamilan, dan kemampuan untuk mendengar sepenuhnya
dikembangkan pada saat lahir. Sementara dalam rahim, bayi Anda bisa mendengar
detak jantung ibu, perut ibu keroncongan dan darah bergerak melalui tali pusat.
Bayi Anda mungkin bahkan telah dikejutkan oleh suara keras
2.
Bayi
Baru Lahir
Sejak lahir bayi Anda akan
memperhatikan suara dan suara, terutama yang bernada tinggi. Dia juga akan
merespon suara akrab, seperti suara atau lagu ninabobo Anda bermain atau sering
menyanyikannya, atau Anda berbicara atau pasangan Anda. Dia mungkin terkejut
oleh keras atau suara tak terduga.
Bagaimana bayi menanggapi suara
sebagian bergantung pada temperamen. Seorang bayi lebih sensitif dapat melompat
pada setiap suara kecil, misalnya, sementara bayi lebih tenang mungkin
memerlukan waktu lebih suara dengan tenang.
3.
Usia
Tiga Bulan.
Pada usia tiga bulan bagian dari
otak bayi Anda yang membantu dengan pendengaran, bahasa dan bau akan lebih
reseptif dan aktif. Ini bagian dari otak bayi Anda disebut lobus temporal. Pada
usia 3 bulan, bayi akan tersenyum saat mendengar suara orang tua, dan bahkan
mungkin mulai mengoceh. Ketika bayi Anda mendengar suara Anda, dia mungkin
melihat langsung pada Anda dan mengerang dalam upaya untuk berbicara kembali.
Mengoceh dan mendengarkan dapat bekerja keras untuk bayi Anda pada tiga bulan.
Jika dia terlihat cara lain atau kehilangan konsentrasi saat Anda berbicara
atau membaca untuknya, itu belum tentu karena dia tidak bisa mendengar Anda.
Dia mungkin hanya memiliki rangsangan yang cukup. Kebanyakan bayi bisa tenang
ketika mereka mendengar suara-suara akrab dan membuat vokal terdengar seperti
ohh. Jangan khawatir jika bayi Anda terkadang terlihat jauh saat Anda sedang
berbicara atau membaca padanya, tapi jangan katakan pada dokter jika dia
tampaknya tidak menanggapi suara Anda sama sekali atau tidak mengagetkan di
suara di lingkungan.
4.
Usia
Empat Bulan.
Pada sekitar 4 bulan, bayi mulai
mencari sumber suara. Dari usia empat bulan bayi Anda akan bereaksi terhadap
suara penuh semangat, dan dia mungkin tersenyum ketika dia mendengar suara
Anda. Dia mungkin mulai menonton mulut Anda serius ketika Anda berbicara, dan
mencoba untuk menyalin Anda dan konsonan mengucapkan terdengar seperti
"m" dan "b". Pada usia 4 bulan, bayi dapat membedakan emosi
dengan nada suara dan menggunakan suara mereka sendiri untuk mengekspresikan
sukacita dan ketidaksenangan. Mereka juga dapat mulai mengenal nama mereka
sendiri dan bahkan mungkin kata "tidak."
5.
Usia
Enam Bulan.
Pada usia enam bulan atau tujuh bulan bayi
Anda akan menyadari di mana suara berasal, dan dia akan berbalik cepat ke arah
yang baru. Dia juga akan mampu merespon suara sangat tenang, asalkan dia tidak
terganggu. Pada usia 6 bulan, bayi Anda mungkin dapat meniru dan mendengar
suara Anda. Saat ia mendekati 10 bulan usia, ia akan merespon namanya atau
suara lain yang dikenal atau kata-kata, seperti telepon. Sudah mulai mencoba
untuk meniru suara.
6.
Usia
8 Bulan.
Pada usia 8 bulan, bayi mulai
mengoceh dan menanggapi perubahan dalam nada suara.
7.
Usia
12 Bulan.
Pada saat bayi Anda berusia satu
tahun, dia akan bisa mengenali lagu favoritnya, dan akan mencoba untuk
bergabung masuk. Sekitar usia 1 tahun, dia akan mampu menunjukkan obyek akrab
dalam sebuah buku ketika ditanya. Pada ulang tahun pertama ini bayi akan mengatakan
kata-kata tunggal seperti "ma-ma" dan "da-da" dan
menanggapi namanyasendiri. (Widodo Yudarwanto)
APA
YANG DAPAT KITA LAKUKAN BILA MENGHADAPI BAYI DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN.
Tentu menjadi sangat penting untuk
mendeteksi secara dini (lebih awal) apakah bayi mengalami gangguan pendengaran.
Bayi yang beresiko mengalami gangguan pendengaran atau ketulian sejak lahir, harus
menerima tes skrining pendengaran dini, segera setelah lahir. Hal ini penting
untuk mengetahui apakah bayi mengalami gangguan pendengaran atau ketulian
sehingga penanganan dini dapat dilakukan, dan diharapkan bayi tumbuh optimal, karena masalah pendengaran
dapat menunda perkembangan suara, bicara, dan kemampuan bahasa bayi.
Menjadi tanggung jawab bersama dari
orangtua/keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah dan swasta untuk mempersiapkan
masa depan cerah bagi bayi yang lahir dengan gangguan pendengaran atau
ketulian.
TANGGUNG
JAWAB ORANG TUA/KELUARGA
1. Mengenal
secara dini bayi mengalami gangguan dengar atau tidak, bisa dilakukan secara
sederhana. Ketika orang tua/keluarga mengetahui dengan pasti perkembangan
normal fungsi pendengaran bayi sesuai umurnya (lihat keterangan sebelumnya),
maka orang tua / keluarga bila melihat ada penyimpangan dari perkembangan
normal fungsi pendengaran bayi tersebut, berarti kemungkinan ada gangguan pendengaran.
Bagaimana mengenal gangguan pendengaran pada bayi /
anak
·
Bayi
tidak terkejut ketika ada suara keras
·
Saat
tidur bayi tidak terganggu oleh suara keras/ribut
·
Usia
6 bulan belum mengoceh
·
Anak
dipanggil belum menoleh
·
Belum
dapat berbicara pada usia yang pada umumnya anak seharusnya sudah dapat bicara
·
Anak
hanya menggunakan satu telingannya untuk mendengar
·
Jika
berbicara dengan anak tersebut harus menggunakan suara agak keras / keras
· Adanya
perbedaan perkembangan komunikasi bila dibanding teman sebayanya. (Mitra
Keluarga)
2.
Memberi
dukungan bagi bayi / anak dengan cara membawa bayi/anak ke fasilitas kesehatan
agar dapat diperiksa kesehatan umum
dan pendengarannya, termasuk menyiapkan
dana bagi kelancaran proses pemeriksaan, diagnosa dan penanganannya
3.
Mengikuti
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS, sehingga dapat
mengurangi beban biaya yang dibutuhkan.
TANGGUNG JAWAB TENAGA KESEHATAN
TANGGUNG JAWAB TENAGA KESEHATAN
1. Meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan
untuk deteksi dini, diagnosa, penanganan bayi/anak dengan gangguan pendengaran
dan ketulian
2. Mengadvokasi pemerintah daerah
masing-masing untuk menyediakan sarana kesehatan yang mendukung deteksi dini
dan penanganan bayi/anak dengan gangguan dengar
3. Sosialisasi dan edukasi kepada
masyarakat luas.
Karena
diperkirakan sekitar 60 % persalinan ditolong oleh bidan maka para bidan harus
mahir melakukan pemeriksaan secara sederhana untuk mendeteksi apakah bayi lahir
dengan gangguan pendengaran / tuli atau tidak. Demikian juga bila dokter umum
yang menolong persalinan, dapat melakukan pemeriksaan sederhana
CARA SEDERHANA PEMERIKSAAN PENDENGARAN BAYI
Yaitu dengan memberikan bunyi-bunyian pada
jarak 1 m di belakang anak :
1.
Bunyi pss – pss untuk mengambarkan
suara frekwensi tinggi
2.
Bunyi uh – uh untuk mengambarkan
frekwensi rendah
3.
Suara menggesek dengan sendok pada
tepi cangkir (frekwensi 4 KHz)
4.
Suara mengetuk dasar cangkir dengan
sendok (frekwensi 900 KHz)
5.
Suara meremas kertas (frekwensi 6000
KHz)
6.
Suara bel (frekwensi 2000 KHz)
Seuai dengan usia anak, perkembangan
fungsi pendengaran sebagai berikut :
- Usia 0-4 bulan : kemampuan respons
pendengaran masih terbatas dan bersifat refleks. Dapat dinyatakan bayi keget
mendengar suara keras atau terbangun ketika sedang tidur. Respons berupa
refleks auropalpebral maupun refleks Moro.
- Usia 4-7 bulan : respons memutar kepala kearah bunyi yang terletak dibidang horizontal, walaupun belum konsisten. Pada usia 7 bulan otot leher cukup kuat sehingga kepala dapat diputar dengan cepat kearah sumber suara.
- Usia 7-9 bulan : dapat mengidentifikasi dengan tepat asal sumber bunyi dan bayi dapat memutar kepalanya dengan tegas dan cepat.
- Usia 9-13 bulan : bayi sudah mempunyai keinginan yang besar untuk mencari sumber bunyi dari segala arah dengan cepat.
- Usia 2 tahun : pemerika harus lebih teliti karena anak tidak akan memberi reaksi setelah beberapa kali mendapat stimulus yang sama. Hal ini disebabkan karena anak sudah mampu pemperkirakn sumber suara.
- Usia 4-7 bulan : respons memutar kepala kearah bunyi yang terletak dibidang horizontal, walaupun belum konsisten. Pada usia 7 bulan otot leher cukup kuat sehingga kepala dapat diputar dengan cepat kearah sumber suara.
- Usia 7-9 bulan : dapat mengidentifikasi dengan tepat asal sumber bunyi dan bayi dapat memutar kepalanya dengan tegas dan cepat.
- Usia 9-13 bulan : bayi sudah mempunyai keinginan yang besar untuk mencari sumber bunyi dari segala arah dengan cepat.
- Usia 2 tahun : pemerika harus lebih teliti karena anak tidak akan memberi reaksi setelah beberapa kali mendapat stimulus yang sama. Hal ini disebabkan karena anak sudah mampu pemperkirakn sumber suara.
Perkembangan bicara erat kaitannya dengan tahap perkembangan
mendengar pada bayi, sehingga adanya gangguan pendengaran perlu dicurigai
apabila :
Usia 12 bulan : belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru
bunyi
Usia 18 bulan : tidak dapat menyebut 1 kata yang mempunyai
arti
Usia 24 bulan : perbendaharaan kata kurang dari 10 kata
Usia 30 bulan : belum dapat merangkai 2 kata
Apa yang harus dilakukan bila tenaga kesehatan di fasilitas
kesehatan primer bila mencurigai bayi / anak dengan gangguan pendengaran atau
ketulian :
·
Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT-KL
(Bidang Audiologi –> Audiologist/Physician in Audiology)
·
Konsultasi dengan Dokter Anak
(Tumbuh kembang anak)
·
Konsultasi dengan Psikiater Anak
·
Konsultasi dengan Psikolog Anak
Bagi
Dokter Spesialis THT-KL dengan Tenaga Audiologis, sudah harus mampu melakukan
pemeriksaan fungsi pendengaran yang lengkap.
Pemeriksaan fungsi pendengaran secara lengkap
·
Tympanometri
Menilai fungsi telinga tengah
Menilai fungsi telinga tengah
·
BOA
(Behavioral Observation Audiometri)
Menilai kemampuan anak dalam memberikan respon terhadap rangsang bunyi dengan mengamati perilaku anak
Menilai kemampuan anak dalam memberikan respon terhadap rangsang bunyi dengan mengamati perilaku anak
·
Play
Audiometri
Menilai fungsi pendengaran anak yang dilakukan sambil bermain
Menilai fungsi pendengaran anak yang dilakukan sambil bermain
·
OAE
(Oto Acoustic Emition)
Menilai fungsi Cochlea secara obyektif dan dapat dilakukan dalam waktu yang Singkat
Menilai fungsi Cochlea secara obyektif dan dapat dilakukan dalam waktu yang Singkat
·
ABR
(Auditory Brainstem Response)
Pemeriksaan yang menilai fungsi pendengaran secara obyektif sepanjang jalurpendengaran (N.VIII)
Pemeriksaan yang menilai fungsi pendengaran secara obyektif sepanjang jalurpendengaran (N.VIII)
·
ASSR
(Auditory Steady State Response)
Pemeriksaan yang hampir sama dengan ABR namun hasilnya dapat menunjukkan beberapa frekuensi pendengaran sekaligus.
Pemeriksaan yang hampir sama dengan ABR namun hasilnya dapat menunjukkan beberapa frekuensi pendengaran sekaligus.
TANGGUNG JAWAB ORGANISASI KEMASYARAKATAN, SWASTA DAN PEMERINTAH
1. Sosialisasi dan edukasi kepada
masyarakat melalui media penyuluhan, leaflet, brosur, poster, iklan layanan masyarakat dan sebagainya.
2. Organisasi kemasyarakatan seperti organisasi keagamaan, organisasi wanita, organisasi pemuda, lembaga adat dan swasta, mendukung Pemerintah dalam hal :
a. Menyiapkan anggotanya sebagai kader untuk membantu sosialisasi atau edukasi tentang deteksi dini pada bayi lahir tuli dengan cara pemeriksaan sederhana
b. Melakukan bakti sosial di bidang kesehatan pendengaran khususnya deteksi dini bayi lahirdengan gangguan pendengaran atau ketulian dan dukungan alat bantu dengar
c. Menggalang dana guna mendukung penggandaan bahan sosialisasi/edukasi bagi anggota masyarakat, bakti sosial untuk dukungan alat bantu dengar dan implan koklea
2. Organisasi kemasyarakatan seperti organisasi keagamaan, organisasi wanita, organisasi pemuda, lembaga adat dan swasta, mendukung Pemerintah dalam hal :
a. Menyiapkan anggotanya sebagai kader untuk membantu sosialisasi atau edukasi tentang deteksi dini pada bayi lahir tuli dengan cara pemeriksaan sederhana
b. Melakukan bakti sosial di bidang kesehatan pendengaran khususnya deteksi dini bayi lahirdengan gangguan pendengaran atau ketulian dan dukungan alat bantu dengar
c. Menggalang dana guna mendukung penggandaan bahan sosialisasi/edukasi bagi anggota masyarakat, bakti sosial untuk dukungan alat bantu dengar dan implan koklea
3. Pemerintah bertanggung jawab
a. Menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang mahir menetapkan diagnosa dan menangani bayi/anak dengan gangguan pendengaran atau ketulian, seperti tenaga dokter spesialis THT-KL (subspesialis bedah mikro telinga), dokter spesialis anak (sub Tumbuh Kembang Anak), ahli psikiater anak, ahli psikologi anak, tenaga audiologist terlatih, tenaga terapis audio-verbal, teknisi fitting alat bantu dengar, yang secara reguler dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui kursus/pelatihan
b. Menyediakan alat pemeriksaan untuk mendukung diagnosa gangguan pendengaran atau ketulian pada bayi/anak seperti alat Timpanometri, BOA, Play Audiometri, OAE, di RSUD Kabupaten/Kota, ABR/ ASSR dan mikroskop bedah telinga untuk implant koklea (rumah siput) di RSUD Propinsi
c. Menyediakan Ear Kit, alat audiometer skrining dan perawat terlatih audiologi di Puskesmas.
d. Menyediakan Alat Bantu Dengar (ABD) yang “low cost high quality”
e. Membuat MOU dengan pihak donor, lembaga di dalam dan luar negeri untuk mendukung kegiatan deteksi dini, diagnosa, penanganan sampai bantuan dana bagi kelancaran program.
a. Menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang mahir menetapkan diagnosa dan menangani bayi/anak dengan gangguan pendengaran atau ketulian, seperti tenaga dokter spesialis THT-KL (subspesialis bedah mikro telinga), dokter spesialis anak (sub Tumbuh Kembang Anak), ahli psikiater anak, ahli psikologi anak, tenaga audiologist terlatih, tenaga terapis audio-verbal, teknisi fitting alat bantu dengar, yang secara reguler dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui kursus/pelatihan
b. Menyediakan alat pemeriksaan untuk mendukung diagnosa gangguan pendengaran atau ketulian pada bayi/anak seperti alat Timpanometri, BOA, Play Audiometri, OAE, di RSUD Kabupaten/Kota, ABR/ ASSR dan mikroskop bedah telinga untuk implant koklea (rumah siput) di RSUD Propinsi
c. Menyediakan Ear Kit, alat audiometer skrining dan perawat terlatih audiologi di Puskesmas.
d. Menyediakan Alat Bantu Dengar (ABD) yang “low cost high quality”
e. Membuat MOU dengan pihak donor, lembaga di dalam dan luar negeri untuk mendukung kegiatan deteksi dini, diagnosa, penanganan sampai bantuan dana bagi kelancaran program.
KESIMPULAN.
Mempersiapkan
masa depan cerah bagi bayi yang lahir dengan gangguan pendengaran atau ketulian,
merupakan tanggung jawab bersama dari orang tua/keluarga, tenaga kesehatan,
organisasi kemayarakatan, swasta dan pemerintah.
Semoga
bermanfaat.
Selasa, 01 Maret 2016
KAMI PERNAH TIDUR DI JEMBATAN WARSAMBIN-RAJA AMPAT INI...
![]() |
| DERMAGA WARSAMBIN - RAJA AMPAT, KAMI PERNAH TERTIDUR DISINI |
Pada 26 Februari 2016, kami tim Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat mengadakan bakti sosial pelayanan kasih ke Warsambin - Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat. Kegiatan yang dilaksanakan berupa Penyuluhan Kesehatan Telinga, Bersih-Bersih Telinga, Penyuluhan Kesehatan Gigi - Mulut, Praktek Cara Sikat Gigi yang benar, Pembagian Alat Kebersihan Gigi dan Badan, Pembagian Seragam Sekolah dan Makanan Ringan kepada murid SD N Warsambin. Setelah kegiatan di SD N Warsambin, kegiatan pelayanan kesehatan spesialistik bidang THT, Kulit-Kelamin, Gigi-Mulut dilanjutkan untuk masyarakat luas yang dipusatkan di Puskesmas Warsambin. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Komnas PGPKT dr. Damayanti Soetjipto SpTHT-KL (K), dr. Tommy Yong (Kadinkes Kabupaten Raja Ampat), dr. Sulantari SpTHT-KL (Ketua Komda PGPKT Kota Surabaya), dr. Sri Susilawati SpTHT-KL (Ketua Komda PGPKT Jakarta Selatan), dr. Titus Taba SpTHT-KL (Ketua Komda PGPKT Propinsi Papua Barat), dr. Alfian Hadlil SpTHT-KL (K) dari Perhati-KL, dr. Adelene Anwar SpTHT-KL (Komda PGPKT Jakarta Pusat), dr. Bintang Napitupulu SpTHT-KL (RS Immanuel Bandung), dr. Tumpal Simatupang SpTHT-KL dan dr. Jenny Ritung SpKK, FINSDV (anggota Komda PGPKT Papua Barat), Bapak Hendro dan putrinya (Rotary Club Surabaya), Kepala Distrik Teluk Mayalibit, dr. Mambrasar (Dinkes Kabupaten Raja Ampat) dan staf Dinkes Kabupaten Raja Ampat serta staf Puskesmas Warsambin.
INGATAN 15 TAHUN SILAM, KAMI PERNAH TERTIDUR DI DERMAGA WARSAMBIN
Pada kegiatan bakti sosial seperti disebutkan di atas, ingatan saya dibawa jauh melayang ke masa 15 tahun yang lalu. Waktu itu, wilayah yang jadi Kabupaten Raja Ampat sekarang, adalah salah satu distrik dari Kabupaten Sorong dengan ibukota distriknya di Saonek. Jadi dahulu, Warsambin adalah bagian dari Kabupaten Sorong.
Suatu ketika, Tim Pelayanan Kasih Peduli Papua mengadakan pelayanan kasih di kampung-kampung yang terletak di Teluk Mayalibit (bagian dari Kabupaten Sorong waktu itu). Karena perjalanan menggunakan speed boat - dari Sorong ke Teluk Mayalibit memerlukan sekitar 4 jam waktu itu - cukup lama, sehingga kami tiba di Kampung Warsambin sudah jam 12.00. Pelayanan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan cuma-cuma kami lakukan sampai menjelang malam. Mengapa? Karena ketika kami sampai di Kampung Warsambin, warga masyarakat belum berkumpul, sehingga aparat kampung berjalan berkeliling untuk mengajak warga berkumpul agar dapat dilakukan pemeriksaan kesehatannya sekaligus diberi pengobatan secara cuma-cuma bila memang memerlukan obat.
Karena belum disiapkan tempat untuk pelayanan kesehatan, dan sambil menunggu warga masyarakat berkumpul, kami menyempatkan diri untuk menghilangkan rasa penat, kami duduk di atas dermaga yang terbuat dari kayu sambil meluruskan kaki. Mungkin karena kelelahan, sebagian dari kami tertidur di atas dermaga. Memang, angin sepoi-sepoi yang berhembus ke arah Teluk Mayalibit, membuat kami makin mengantuk dan sebagian tertidur.
Pelayanan kesehatan baru dimulai sekitar jam 16.00, ketika masyarakat sudah berkumpul.
Mungkin saja sebagian masyarakat sudah beristirahat ketika kami datang, atau sebagian lagi ada di kebun untuk bekerja, sehingga untuk mengumpulkan mereka perlu waktu.
Mungkin saja sebagian masyarakat sudah beristirahat ketika kami datang, atau sebagian lagi ada di kebun untuk bekerja, sehingga untuk mengumpulkan mereka perlu waktu.
WARSAMBIN, SETELAH 15 TAHUN
Setelah 15 tahun, kami melihat sudah banyak perubahan di Kampung Warsambin. Sebagai ibukota distrik Mayalibit-Kabupaten Raja Ampat, tentu pembangunan sudah meluas sampai ke daerah yang dulu sepi ini. Masyarakat bertambah banyak - mungkin karena daerah pemekaran sehingga banyak warga baru yang datang - dengan aktifitas yang bervariasi. Sekarang ada jalan aspal - walau sebagian rusak dan sedang diperbaiki - dari Waisai (ibukota Kabupaten Raja Ampat sampai ke Kampung Warsambin), sudah berdiri gedung-gedung permanen berdinding beton - yang dulunya terbuat dari papan - seperti sekolah, puskesmas, kantor distrik, rumah ibadah. Hanya saja yang belum berubah adalah dermaganya, masih terbuat dari kayu, seperti yang pernah kami tertidur di atasnya.
![]() |
| PUSKESMAS WARSAMBIN SEKARANG INI |
Jumat, 26 Februari 2016
VIDEO LAGU_PEMERIKSAAN PENDENGARAN BAYI SECARA SEDERHANA
Mari kita belajar lagu 'Pemeriksaan Pendengaran Bayi Secara Sederhana'. Dengan bernyanyi, kita dapat mengenal dan mempraktekkan bagaimana cara memeriksa pendengaran bayi secara sederhana, tanpa menggunakan alat, cukup dengan memberi bunyi-bunyian dan melihat respons bayi. Sesudah mengenal lagunya, mari kita aplikasikan sebagai bagian dari hidup kita bersama bayi-bayi yang ada di sekitar kita. Bila kita bisa melakukan pemeriksaan pendengaran bayi secara sederhana ini, kita sudah berperan dalam mendeteksi ketulian pada bayi. Terima kasih buat anak-anak yang tergabung dalam grup vokal 'Bunga Damai' yang sudah menyumbangkan suaranya dalam kegiatan 'Seminar Deteksi Dini Ketulian Pada Bayi Bagi Para Bidan dan Dokter di Sorong' pada tanggal 25 Februari 2016.
Kamis, 25 Februari 2016
EARLY DETECTION TRAINING FOR CONGENITAL DEAFNESS IN GREAT SORONG
Menyambut Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran Nasional tanggal 3 Maret 2016, kami memprakarsai kegiatan-kegiatan dalam upaya penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian di Sorong khususnya dan di Propinsi Papua Barat umumnya. Oleh karena itu kami membentuk kepanitiaan bersama antara Komda PGPKT Kab Sorong dan IDI Sorong - dengan dukungan penuh dari Komnas PGPKT, Komda PGPKT Propinsi Papua Barat - yang kemudian mengadakan Simposium dan Pelatihan Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dan Ketulian Pada Bayi Baru Lahir bagi Dokter, Bidan, Perawat se-Sorong Raya, tanggal 25 Februari 2016 bertempat di Aula Kantor Klasis GKI Sorong. Turut hadir sebagai Narasumber dan instruktur : Ketua Komnas PGPKT dr. Damayanti Soetjipto SpTHT-KL (K), dr. Sulantari SpTHT-KL (Ketua Komda Kodya Surabaya), dr. Sri Susilawati SpTHT-KL (Kertua Komda Jakarta Selatan), dr. Alfian F. Hafil (Jakarta), dr. Adelena Anwar SpTHT-KL (jakarta), dr. Bintang Napitupulu SpTHT-KL (Bandung), dr. Adrina Waleleng SpA (Sorong), dr. Titus Taba SpTHT-KL (Ketua Komda Papua Barat), dr. Tumpal Simatupang SpTHT-KL (Sorong Selatan), dr. Hansky Legrans SpTHT-KL (Universitas Negeri Papua-Sorong).






Jumat, 01 Januari 2016
Langganan:
Postingan (Atom)



